When my Hubby slept tonight..

Dua hari lalu, kami (core team) berempat rapat dengan atasan. Selama kurang lebih 1 jam kami rapat. Biasa, suasana yang kami dapati di rapat penuh “dongeng menjelang tidur” (hehe.. peace boss!). Intinya, setelah rapat atasan memberikan seabrek tugas pada kami. Dan seperti biasa pula, tugas tersebut adalah Mission Impossible. Berhubung saya sudah biasa menghadapi boss saya itu, ya saya enjoy saja mengerjakan tugas gila itu: Bikin konsep perusahaan! Damn!! Selama satu tahun saya kerja di perusahaan ini, saya disuruh buat konsep perusahaan.. How come? Setahun kemaren kemana aja boss?? Ya ya yaa.. itu adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena saya sendiri tidak bisa menjawab. Yang bisa menjawab adalah beribu-ribu pertanyaan yang sudah menumpuk di otak saya selama satu tahun bekerja dengannya, pertanyaan yang muaranya satu: “Who’s my boss actually?” “Is he come from the ancient world?? Oh come on!

Pertanyaan itu tidak ada jawabannya. Saya gagal mendapatkannya dari sudut dan sumber manapun. Lalu dengan masih bersungut-sungut karena tugas untuk mengonsep ulang perusahaan itu, saya lihat jam. Sudah jam 8 lebih lima menit. Artinya.. Pulaaaaaaaang!!! Hari ini lembur 3 jam, saya tidak ingin lama-lama di kantor. Ada suami saya yang sudah pulang lebih dahulu di rumah.

“Mas sayang, tolong jemput Ade ya, di pertigaan ojek Setiabudi Building. Makasih cintaku yang ganteng..” begitu sms yang aku kirim ke suamiku. Aku bergegas menunggu suamiku di pertigaan itu. Sambil menunggu, aku mengamati suasana jalan Kuningan. Weeew! Masih saja macet! Pusing! Aku palingkan wajahku dan Pop! Suamiku dan motornya, si Mumu, sudah terlihat menjemput, dengan senyum lebar ia menghampiriku. Aku segera naik. Segera saja aku meletakkan kepalaku di belakang pundak suamiku. Sepanjang perjalanan ke kosan kami di Karbela Selatan aku hanya bisa memeluknya dengan lelah.

“Gimana hari ini sayang?” tanya suamiku. Aku jawab pendek, “Capek..” Setelah itu aku tidak lagi berbicara sepatah katapun, sampai kami masuk kosan.

Kami lalu beberes, aku mandi, lalu memasak untuk makan malam kami dan duduk bersama untuk makan malam sambil menonton televisi. Setelah selesai makan, beberapa saat kemudian suamiku yang melihatku menguap karena mengantuk dan terlihat lelah segera mengambil pundakku untuk dibawa ke dalam pelukannya, tanganku diremas-remas, kepalaku dielus, dan pundakku dipijat dengan lembut. Sambil memamerkan senyum manisnya, suamiku bergumam, “Kasian istriku, capek.. Sini mas pijitin.”  Aku hanya bisa tersenyum.

Lalu sesaat kemudian aku iseng bertanya pada diriku sendiri, menggumam, “Kapan ya Ade bisa ada waktu untuk melayani mas dengan segenap jiwa, ga dalam keadaan capek pikiran karena kerjaan yang gila-gilaan..” Lalu suamiku menimpali, “Gapapa sayang, kan mas ga nuntut apa-apa dari Ade.. Lagipula Ade kan dibutuhkan sekali di kantor. Apalagi bos Ade sudah percaya sama Ade dan kinerja Ade. Sabar ya sayang..” kata suamiku dengan lembut, kata-katanya penuh makna.

Satu setengah jam kami bercengkerama, cukup untuk menghilangkan penat. Lalu kami memutuskan untuk tidur. Setelah menikah, ritual sederhana yang sangat kusukai menjelang tidur adalah bercengkerama dengan belahan jiwaku itu, setelah itu saling memeluk. Setelah memeluk aku, mengucapkan kata cinta dan mencium keningku, suamiku langsung tertidur pulas, pertanda ia sangat kelelahan setelah menjalani hari. Tapi tidak denganku. Aku tetap tidak bisa tidur cepat. Berbagai pemikiran lewat dan wira wiri di hatiku, berusaha menyentuh otakku untuk mengambil keputusan. Sialnya, cuma pertanyaan bodoh yang aku tidak tahu jawabannya yang hanya bisa keluar dari mulutku, “What’s next for tomorrow?”

Aku hanya bisa diam, kata-kata suamiku sebelum tidur cukup mengganggu, membuatku tidak bisa memejamkan mata. Padahal seharusnya aku sudah bisa membuat keputusan. Keluar dari pekerjaan itu, atau bertahan..! Tidak berhasil memutuskan, aku bangun dan mengambil posisi duduk, sesaat kemudian aku menoleh ke sisi kiriku, suamiku sedang terlelap dengan manis. Matanya yang kudup makin menipis saat ia tidur. Aku mengamati bagian demi bagian tubuhnya. Saat itulah aku lupa dengan apa yang sedang aku pikirkan tadi. Aku nikmati pandanganku melihat sosok lelaki yang luar biasa, yang mungkin saja sedang bermimpi dalam tidurnya. Apa sih yang membuatnya luar biasa?

Aku suka matanya yang kudup, seksi. Hidungnya yang mancung, tidak bergerak jika ia berbicara atau tertawa (ia selalu menertawakan hidungku yang selalu ikut bergerak-gerak jika aku bicara atau tertawa), bibirnya yang nyigar jambe (bahasa jawa, artinya menekuk ke dalam di bagian tengahnya, atau terbelah) terkesan menggemaskan, lalu dahinya yang lebar tempat dimana aku bisa puas menciuminya, dagunya yang memiliki lekukan sempurna, serasi dengan kontur wajahnya yang “njawa”, pipinya yang tembem suka kucubiti – kalo sudah begitu dia cuma bisa pasrah sambil memejamkan mata, meringis lucu sambil menahan sakit “nah, malah buat mainan kan? Emang masnya ni boneka?”. Lalu tangan yang lebar dan kokoh serta lengannya yang kekar, mampu menopang tubuhku kala kepayahan, dada dan punggung yang bidang tempat dimana aku biasa menjatuhkan diri saat ingin menumpahkan air mata atau sekedar bermanja, perut yang mulai membuncit – aku selalu mencubit perutnya dengan gemas saat becanda sambil ledek2an, pantatnya yang montok dan seksi, dan semua bagian tubuhnya aku amati satu-satu.

Apa yang aku sukai dari lelaki ini? Kenapa aku bisa mencintainya? Dia selalu ada di sampingku, dengan sabar menerima apa adanya aku, mendengarkan ocehanku yang kadang tidak penting, memberiku saran dan nasehat yang masuk ke akalku, menghiburku saat aku sedih, memarahi aku kala hormon kelaki-lakianku kambuh atau karena aku tidak patuh padanya, mengarahkan aku dengan metodenya yang unik dan bisa memegangiku saat aku mulai menjauh – karena menurutnya aku licin, seperti ikan sesuai zodiakku pisces – membimbingku untuk kembali ke kodrat kala aku lupa pada posisi dan statusku sekarang. Sambil terus melihat wajahnya dalam tidurnya yang lelap itu, aku terbawa pada kenangan-kenangan dimana kami sering menghabiskan waktu bersama, menjalani sedih, duka, berantem, bahagia, dan semuanya, hanya berdua. Bagaimana kami menghadapi masalah yang menghadang, cobaan, rintangan, anggapan-anggapan dari lingkungan sekitar dan keluarga yang terkadang tidak sesuai dengan kenyataan yang kami jalani, semuanya. Lalu aku senyum sendiri. Aku elus wajahnya, “Ya Allah, aku mencintainya. Bahkan saat ia dalam keadaan tak bergerak, tak berekspresi, tak berbicara seperti ini, aku mencintainya. Aku mencintai seluruh dirinya. Allah Maha Baik, Engkau telah kirimkan lelaki yang luar biasa, lelaki yang telah memenangkan hatiku, dan membawaku pada kebahagiaan yang tanpa batas.”

Lalu.. Bagaimana aku harus memutuskan? Aku tidak ingin kehilangan suamiku, perhatian-perhatiannya yang indah ingin aku nikmati setiap saat, tidak ingin terlewatkan sedetikpun. Aku ingin saat dia sedih, aku ada di sampingnya. Aku ingin saat ia bahagia, aku ada menjadi saksi hidupnya. Sementara, jika aku memilih untuk terus berada dan bergulat pada pekerjaan yang benar-benar menekan aku seperti pekerjaanku saat ini, aku tidak yakin bisa memelihara perasaaan bahagiaku bersama suamiku tercinta.

Berkali-kali pekerjaanku ini membuat aku pulang ke rumah dalam keadaan labil. Tidak jarang aku membiarkan diriku menangis sepuasnya di samping suamiku yang terheran-heran karena sikapku. Satu hal yang tidak aku sukai dalam situasi seperti itu adalah suamiku tidak bisa berkata apapun, dengan sorot mata yang tajam menatap malas padaku, seakan-akan berkata “Dek, siapa kamu sekarang? Aku tidak mengenalmu!” Saat itu suamiku akan meninggalkan aku sendiri, sementara aku masih menangis dan tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang harus aku lakukan? Aku seperti gila!

Air mataku terus mengalir, perasaanku berkecamuk. Aku sangat mencintainya, hidup dan matiku, aku merasakan cintaku ini tumbuh setiap saat padanya. Aku membutuhkannya mengisi kekosongan jiwaku. Inilah saatnya memutuskan.

“Mas, aku akan mengajukan pengunduran diri atas pekerjaanku sekarang. Ada yang harus aku perjuangkan, kamu Mas..”

— di suatu malam di bulan November 2008 —

Semoga Allah menjagamu dalam dekapan terhangatNya

Ini adalah kisah yang pernah saya tulis di blog saya di Friendster, saya tulis 2 tahun lalu, Desember tgl 24. Saat itu saya sedang dalam masa-masa akhir menyusun skripsi. Entah kenapa saya jadi mellow banget waktu itu. Kangen sama Ibu. Wajar, selama 6 tahun saya kuliah di Bandung, sedangkan keluarga besar ada di Salatiga. Saya sangat merindukan beliau dan udara Salatiga tentunya..

Soo… this is the story.. 😉

=================================

“Nisa, bangun… udah adzan subuh. Sholat dulu, wuk… Habis sholat, mandi.. trus sarapan, sarapanmu udah ibu siapin di meja…”

“Nisa.. mbok ya pakaiannya distrika dulu buat besok brangkat sekolah, biar pagi2 tu dah beres tinggal berangkat..”

(siang-siang, dari dalam kamar tidur) “Mbak Ichaaaa… Jemurannya diangkaaat! Dah pada kering tu lho.. nanti kena hujan. Ibu capek mau tidur duluu…”

(atau.. tiba-tiba kamarku dibuka dan ada wajah ibu disana, kaget.) “Lhooo… Mbak Niiis…. Kok malah baca komik?? Bukannya belajar??”

“Mulut Ibu ini sampe kesel (capek) ngingetin kamu terus, mbok ya kalo duduk di kursi tuh kaki jangan diatas! Perempuan kok kayak gitu! Malu!”

Dan sederetan kebiasaan-kebiasaan ibu yang masih aku ingat sampai sekarang, yang paling sering adalah mengingatkan aku untuk sholat. Maklum, aku suka lalai, jiwa muda yang penuh dengan nafsu sering mengalahkan kewajiban untuk beribadah sholat 5 waktu sebagai wujud syukur kepada Allah.
Tradisi itu sudah berlangsung sejak kecil hingga usiaku menginjak 18 tahun. Setelah usiaku 18 th ke atas (kayak pilem aja ya?) aku memutuskan untuk kuliah di kota orang, itu artinya aku harus ngekos. Nun jauh di Jatinangor! Dua minggu pertama (!!) aku dijaga ibu disana, menemani aku Ospek, membimbing aku ngekos, mengawasi pergaulanku, dan merawat sakit demam karena culture shock-ku.

Aku masih ingat air mata yang menetes di pipi ibuku dan masih ingat rasa yang tercekat di tenggorokanku saat kami berpisah untuk pertama kalinya, melepasku hidup sendiri jauh dari ibu. Seminggu pertama aku demam lagi karena yah.. jauh dari ibu.

Kini usiaku sudah kepala 20 dan sudah bekerja di sebuah perguruan tinggi negeri di bandung, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah. Walaupun hanya lewat telepon, tapi Ibu tak pernah lupa untuk mengingatkan hal-hal yang mungkin saja aku bisa lupa.

“Jangan suka pulang malem, Nis.. bahaya. Cewek jangan suka keluyuran.”

“Kalo ada apa-apa bilang ke Bapak kos ya, biar ada yang nanganin..”

“Jangan lupa sholat.. sholat malam dan duhanya jangan dilupakan..”

“Ibu sayang… aku udah dewasa.” pintaku dengan tegas pada Ibu pada suatu pagi, saat kami terlibat perdebatan mengenai pandangan hidup. Wajah tua itu langsung berubah.

“Ibu.. aku sudah mandiri, sudah biasa memutuskan segalanya sendiri, aku juga tahu apa yang terbaik untuk diriku.. Tolonglah bu.. Jangan buat aku semakin bimbang dengan keputusan ibu ituu..”
Seketika, mata ibu jadi terlihat sayu..

Suatu saat, aku mengirim kartu ucapan selamat hari ibu. Isinya simpel, aku sadur dari majalah Tarbawi. Simpel tapi bagiku sangat indah, artinya dalam sekali. Memaparkan perjalanan hidup seorang anak dan ibu, dari anak itu lahir hingga ibu meninggal. Kartu itu telah sampai ke tangan ibu, tapi aku belum tahu bagaimana perasaan ibu saat membaca kartu itu. Belakangan aku tahu, kalau ibu menangis dengan hati yang sedih saat membaca kartu itu.

Aku jadi teringat sebuah artikel mengenai ibu..

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ….. tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa
Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?”

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata, “Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian,
Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri”

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah
melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Diam-diam aku bermuhasabah. ..
Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu. Ibu menjawab, “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu.

Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan.
Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu.
Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu .

Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.”

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu.”
Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adikku sering tertidur lagi…

Ah, maafkan kami Ibu … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

“Nisa… bangun wuk, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. ”

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan “terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”.

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu,
Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu..
Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada
orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita … Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.

Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua’lam

“Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…”
dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil”

“Titip Ibuku ya Allah”

I am shy of the red ant…

Masih ingat judul diatas.. Diterjemahkan jadi “Aku malu pada semut merah”. Siapa yang ingat syair itu? Ayo ngacuuung! (Saya bu.. saya buu.. sayaa..!) Haduh ribet bener ya? Hehe..

Obbie Messakh - Album Kisah Kasih di Sekolah

Obbie Messakh - Album Kisah Kasih di Sekolah

Baiklah, syair tersebut adalah syair lagu milik Oom Obbie Messakh, a famous pop singer tahun 80-90an. Saya panggil Oom aja ya.. soalnya beliau ini usianya sudah 50 tahun. Jadi ga pas kan kalo saya memanggil Mas? Hehe.. Alkisah, bersama lagu top 10 tahun 2008 yang lain, lagu tersebut sering saya putar di list winamp saya seminggu ini. Ingatan saya langsung melayang layang di udara..

Duluuu.. saya masih SD, suka banget dengerin lagu semut merah dan semut kecil (mereka temenan kan ya? ;p) Lagu semut kecil sih pas banget dengan jiwa anak-anak.. Tapi kalo lagu “semut merah”? Wooo.. sampai-sampai orang tua saya mengalihkan perhatian saya (yang sedang asyik nonton tv menyimak lagu Oom Obbie) dengan menyuruh saya mengambil makanan kecil di dapur. Saya langsung bergegas mengambil makanan kecil karena tidak ingin tertinggal menyimak lagu itu.

Saya perhatikan scene demi scene video klip lagu itu dengan seksama. Oom Obbie (yang waktu itu usianya masih 30th-an) berperan jadi siswa SMA, main kucing-kucingan dengan gurunya saat mengikuti pelajaran di kelas. Ia lalu memberi kode pada pacarnya yang duduk tak jauh dari bangkunya dan mengajak keluar kelas hanya untuk ketemuan (baca: atau pacaran?? hehe). Dan Oom Obbie lalu ngibul sama sang guru dengan ijin ingin ke belakang (toilet maksudnya..), Oom Obbie lalu menuju ke belakang sekolah dan mengamati sebarisan semut merah yang berbaris di dinding menatap curiga Oom Obbie, seolah bertanya “sedang apa disitu?” Oom Obbie menjawab, “menanti pacar..”

Tidak lama kemudian sang pacar datang, setelah mengibul dengan sang guru tentunya hehe.. Akhirnya bertemulah mereka sambil maluw maluw…Hihi, jaduuuul banget kesannya.. Masih malu-malu gitu pacarannya, dari cara mereka menatap, dan berinteraksi. Beda banget sama remaja sekarang. Kalo sudah saling suka, mereka lalu ketemuan, dan berlangsunglah itu yang namanya rumus 1+1=2. Weew! Naudzubillah..

Lagu itu legendaris sekali. Saya terdiam sejenak mendengarkan lagu itu. Secaraa.. Oom Obbie adalah musisi yang di jaman sekarang ini langka didapat. Merinding mendadak nih kulit.. Saya sudah mulai bosan mendengarkan lagu-lagu penyanyi sekarang yang menjamur dengan lirik-lirik yang kadang sulit diterima dengan akal sehat, seperti lagu Wali Band dimana ada kata “bajingan” di lagunya.

Kalau mau jujur, suara Oom Obbie pas-pasan: cenderung fals, pitch control kurang… Tapi karena jaman itu penyanyi masih sedikit jumlahnya, dan untuk menciptakan lagu masih cenderung mengandalkan perasaan (baca: menyentuh), maka walaupun suara Oom Obbie pas pasan tapi karena menyanyikannya dengan perasaan, jadinya terdengar dan terasa sooo touchyyyy… (*hug, *thrill)

Dreaming of a touchscreen internet ;-)

ist2_2476571-cartoon-girl-using-laptop-vector1

Very terribly case! I made my own blog here..!!! Hooray! Haha.. U must think that I want to say something seriously terrible? Come on.. I just begin to start my new life today.. (Lol)..

Ok, lets make it simply.. I choose to be very close with a blog bcoz I just realized that blog has a timeless guard to save all my thoughts.  Like a very very kind and imperishable library, hehe…

I already have a blog in blogspot, check it out http://www.unlimitedanisa.blogspot.com. You can read all my poems there.. Its original, never published before..! (*batting eyelashes). Write a poem can make me feel free to describe anything surrounded in my heart also my mind.

I hope, in the next 100 years, I still alive and in a good condition to get along with my touch screen website (heuheu.. still dreaming) and updated my stories inside ;p, while my great-grandchildren are playing robots outside the window.. 8->

Well.. I created this blog in the evening, wednesday, November 5th, among my office hour, while drunk a cup of hot coffee.. Yummy!I hope you can enjoy my stories as you enjoy a cup of hot cefee.. hmmm..!