Sincerity


Setelah sekian lama terpendam dan menjadi batu, sekarang saya akan mengeluarkannya dengan sepenuh hati. Selama setahun ini saya benar-benar sudah dibukakan wawasan dan hati saya untuk lebih memahami tentang arti “sincere” atau kesungguhan. Kesungguhan itu sendiri adalah salah satu elemen dari kejujuran. Kejujuran, adalah prinsip yang selalu saya pegang dalam bekerja dan menjalani hidup.

be who you meant to beSelama saya hidup, di sekeliling saya banyak sekali orang-orang yang nggak menerapkan sincere. Entah itu sodara sendiri atau orang lain yang kita kenal maupun nggak kita kenal. Orang yang nggak sincere ini adalah orang-orang yang hidupnya penuh dengan kamuflase, hatinya nggak lurus, penuh intrik, cenderung licik dan selalu berpolitik. Orang dengan tipe ini, setiap langkah yang dilaluinya pasti mengandung maksud dan tujuan tertentu, baik untuk mengamankan dirinya, posisi maupun demi memenuhi ambisi pribadinya.

Orang yang nggak sincere selalu memposisikan atau bahkan akan membuat orang lain menjadi “jelek” dan “tidak bermoral”. Sebaliknya, dia akan berusaha bagaimana caranya supaya terlihat “baik” di mata orang-orang sekitarnya. Jika perlu, dia akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan “kebaikannya” itu, dan lebih parah lagi, dia akan cenderung mengkambinghitamkan orang lain jika terdapat kesalahan.

Kata yang diucapkannya pun juga nggak akan jauh beda dari tingkahnya. Dia bisa dengan mudah blaffing atau omong besar, dia bisa smile dengan manisnya ke semua orang atau berkomunikasi dengan luwes, padahal di dalam hatinya itu dilakukan demi memuluskan apa yang diinginkannya. Kita sama sekali tidak tahu bahwa di dalamnya sama sekali nggak ada ketulusan. Kalaupun dia bilang “Saya bersungguh-sungguh bahwa…” atau “Sejujurnya, saya….” bla bla bla.. Itupun masih diragukan sincerenya.

Orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam ucapan dan perbuatannya, akan dengan mudah bertingkah seperti itu. Ia mengucapkan kata-kata tertentu agar orang lain punya impresi tertentu dalam dirinya, tepat seperti yang dia inginkan. Semua dilakukan demi memuluskan ambisinya. Akhirnya, semua yang dia alami adalah buatan (artificial), palsu, tidak ada sincere di dalamnya.

Orang yang nggak sincere akan sangat jauh dari kejujuran. Akhirnya hidupnya penuh kebohongan. Dan apa yang diinginkan dan dicapainya (walaupun akhirnya tercapai) namun tidak ada keberkahan, karena ia mendapatkan apa yang diinginkan itu tidak dengan sungguh-sungguh. Apa yang ia punya satu persatu akan hilang atau rusak, dan dia akan kembali mencarinya dengan cara yang sama, kecuali : ia merubah konsep hidup dirinya.

Nah, nggak semua orang tahu tanda-tandanya orang yang punya sifat nggak sincere, karena orang ini hidupnya terlihat normal dan baik-baik saja. Padahal dia sendiri mungkin juga tidak merasa, bahwa sebenarnya ia sedang membunuh karakter dan dirinya sendiri secara perlahan.

Saya menemukan case ini pada seseorang yang dulu pernah dekat dengan saya dalam urusan pekerjaan. Ya, dia mengalami kesulitan yang amat sangat. Kompleks sekali apa yang ada dalam pikirannya. Saya nggak bisa mengikuti apa yang ada dalam pikirannya. Bahkan kemauannya apa pun saya tidak bisa memahaminya.Yang saya bisa simpulkan dari diri dia adalah kezaliman, dimana dia zalim terhadap orang lain, dia juga zalim terhadap diri sendiri.

Nah, daripada saya ikut pusing, mending saya menjauh dari dia. Terakhir yang saya tahu mengenai dia, kabarnya, semua hartanya habis, ia tidak lagi mendapat penghormatan dan penghargaan dari orang lain. Bahkan parahnya, dia didoakan jelek oleh orang-orang yang pernah dekat dengan dia namun akhirnya dizalimi sama dia. Naudzubillahimindzalik..

Sesungguhnya kita semua adalah khalifah yang diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia ini, untuk menjadi makhluk yang senantiasa beriman, tawadu’, beribadah, berkarya dengan baik, amanah dan selalu istiqomah. Jihad terbesar adalah jihad melawan nafsu. Maka, bersungguh-sungguhlah dalam segala sesuatu (yang baik), insyaAllah rewardnya pun akan baik, amiiin…

— diilhami kisah nyata dari seseorang yang pernah menggaji saya —

Menuju Lebak Maja

Mulai besok, 16 Januari 2009, selama 3 minggu, saya menjadi jomblo, karena Mas akan bertugas selama 3 minggu untuk pelatihan pekerjaannya yang baru: Nggak boleh pulang, nggak boleh keluar. Dikarantina! Jadi selama 3 minggu ke depan, daripada saya diem aja di rumah, saya punya ide untuk menuntaskan keinginan saya yang terpendam, waktunya untuk menikmati sisi hidup saya yang lain, mencari seutas kebahagiaan yang sempat terenggut 2 tahun yang lalu: Menikmati Lebak Maja.

Untuk itu saya harus berargumen cukup lama dengan suami saya, agar saya diperbolehkan pergi ke sana, tempat dimana saya menemukan kebahagiaan sebagai perempuan, bebas menjadi diri sendiri dan menemukan cinta-cinta dari sahabat-sahabat saya. Argumen yang rumit, berbelit, dan akhirnya… Saya diperbolehkan pergi liburan ke Lebak Maja oleh suami tercinta! Aciiik..

Sejak bekerja di Jakarta, banyak hal yang saya pelajari, ujian demi ujian saya alami, dan seiring berjalannya waktu kok saya jadi sangat tertekan ya? Seperti ada yang miss..Apa yang miss ya?

Saya sangat menyukai pekerjaan saya sebagai profesional informasi. Namun saya merasa dari hari ke hari tekanan yang saya dapatkan sepertinya sanggup membuat saya tidak bisa berpikir seperti layaknya manusia. Saya berpikir seperti robot. Sedangkan saya bukan robot! Saya manusia! 100% masih tulen manusia.

Setahun kemudian, tekanan itu dapat dengan sempurna disembuhkan oleh hadirnya lelaki yang akhirnya menjadi suami saya, Mas. Dia bisa menjadi penawar luka, obat duka dan tempat membuang semua keluh kesah, resah dan gundah dalam pekerjaan saya. Akhirnya luka akibat tekanan itu dapat tertutup oleh pernikahan yang saya jalani pada Agustus 2008.

Setelah menikah, saya tulalit dalam bekerja, labil dan tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaan saya, dampaknya terasa dalam rumah tangga saya. Butuh waktu cukup lama untuk mendefinisikan semua. Setelah bergulat dengan waktu dan pemikiran yang menguras energi dan air mata, dengan dibantu suami, saya memutuskan untuk memperjuangkan kehidupan rumah tangga saya. How? Keluar dari pekerjaan saya.

Setelah (akhirnya bisa) keluar dari pekerjaan, kami pindah rumah. Hari-hari yang pasif tanpa pekerjaan profesional membuat saya berada pada masa peralihan. Sepertinya saya membutuhkan waktu yang tepat untuk menyembuhkan sesuatu yang miss pada mental saya. Aktualisasi dan karya saya yang dahulu meninggi harus saya dapatkan kembali, apapun itu bentuknya. Saya ingin mendapatkan pekerjaan yang membuat saya merasa nyaman dalam berkarya.

Hingga saat ini saya masih tetap setia menunggu kesempatan itu. Di sela waktu menunggu, saya pikir, inilah saatnya saya relaks sejenak dari kesibukan. Saya selami hati saya, lalu saya menemukan intuisi saya berbicara, sepertiya ada sesuatu yang belum tuntas yang masih mengganjal di hati..

Hmm.. Tiba-tiba saya kangen sekali dengan masa lalu. Saya ingin melihat sungai, sawah, desa dan lekukan bukit di Lebak Maja, tempat saya dulu tinggal. Saya merasakan, sejuta bintang ada di langit Lebak Maja setiap malam, pelangi pun selalu ada di tiap sela gunung yang berjajar disana. Hamparan bunga memenuhi jalan-jalan desa Lebak Maja. Ya! Intuisi saya menngatakan, saya membutuhkan pemandangan itu untuk saat ini. Itu saya harapkan cukup untuk membuat jiwa saya utuh kembali.

Sawah Lebak Maja

Sawah Lebak Maja

Saya berdoa, semoga setelah pulang dari Lebak Maja, saya akan bisa pulang ke rumah, dimana jiwa saya sudah kembali membulat, kembali utuh, karena saya menemukan apa yang miss, menyambut suami saya dengan hati yang membuncah, dan siap untuk kembali berkarya! InsyaAllah amiiin..