Mie Rebus Nikmat

Kemaren saya bikin mie rebus kesukaan suami saya. Dingin hujan deres enaknya bikin mie rebus, tapi bukan mie instan, tapi mie rebus buatan sendiri.. Rasanya jauh lebih enak dari mie instan. Pengen tau resepnya? Kasih daaah..

Bahan:

– 1 bungkus mie telor

– 1 butir sosis ayam, iris-iris

– 1/4 kg dada ayam fillet, potong dadu

– 1 batang daun bawang, iris serong

– bawang goreng untuk taburan

– 2 batang sawi, potong-potong

– 2 lembar kol, potong-potong

– 1 buah wortel potong dadu

Bumbu:

– 1 butir bawang bombay sedang

– 2 siung bawang putih

– 2 butir kemiri

– 1 sdt kecap asin

– 2 sdm saus tiram

– 2 sdm saus tomat

– 1/2 sdt kecap ikan

– 1/4 sdt minyak wijen

– 400 cc air rebusan ayam/kaldu (atau air biasa)

– 1 sdt garam

– 1/2 sdt merica

– 2 sdm minyak untuk menumis

Sambal:

– 3 butir cabe rawit merah

– 3 butir cabe rawit hijau

– 1 siung bawang putih

– garam sedikit

Cara membuat:

– ulek bawang bombay, bawang putih, kemiri, garam dan merica sampai lembut

– tumis bumbu dalam wajan, hingga harum

– masukkan ayam, wortel, sosis, kol, aduk rata, tuang air kaldu, masak sampai ayam matang

– masukkan berturut-turut kecap asin, saus tiram, saos tomat, minyak wijen, aduk rata.

– masukkan sawi dan daun bawang, masak hingga sawi matang,

– cicipi kuah, jika kurang asin tambahkan garam, jika kurang mantab tambahkan gula. Lalu angkat, sisihkan.

– Rebus mie telor dalam air mendidih selama 2-3 menit. Aduk-aduk. Angkat.

– Olesi mie dengan minyak goreng agar tidak lengket, taruh di dalam mangkok, lalu taburi dengan bawang goreng. Sisihkan.

– Rebus cabe rawit dan bawang putih, angkat. Ulek cabe, bawang putih, tambahkan garam.

– Hidangkan mie dengan kuah dan sambal. Pelengkap: Kerupuk dan telur ceplok atau telur dadar. Siap disajikan.

Hmm.. enaaak!

Menyelesaikan masalah…

Heyoooooooo….

Apa kabar Indonesiaaaa?

Hmm.. pagi ini saya semangat betul berangkat kerja. Tadi, sepanjang perjalanan ke kantor dengan mengendarai motor saya, si Chihuahua, saya mendapatkan “rekan duet” di jalan, saya namai dia ”pengendara vega”, yang saya rasakan dari awal kami bertemu di pasar minggu, dia udah ngebet banget mendahului saya (padahal sayanya mah geber biasa aja, 50km/jam), mulai dari one way di pasar minggu sampe di jalur busway mampang, serasa duet maut hehehe! Lewat pertarungan sengit di jalan, akhirnya… Anisa memenangkan pertandingan itu….! Cihuuuuuyyy..!! Menurut saya dia gegabah ingin mendahului saya, tapi akhirnya salah ambil manuver dan salah prediksi, jadi dia sering terhenti di beberapa jalur. Peringatan buat para crosser: Berhati-hatilah bermanuver dan tetap sabar serta jeli melihat celah, niscaya kau akan mendapatkan kelancaran dan keselamatan di jalan.

Well… Malam tadi saya jomblo. Suami saya sedang pergi dinas ke Jawa selama 2 hari. Saya jadi banyak waktu merenung di kamar nyaman kami yang mendadak sepi tanpa canda tawa kami. Kami memang biasa menghabiskan waktu kami yang sangat berharga dengan canda tawa dan tentu saja air mata.. Air mata?? Hehee.. Lebay banget ah saya! Tapi bener deh, saya merasakan, kalo ga ada air mata ternyata kurang sip! Air mata itu turun dengan sendirinya biasanya setelah saya dan dia melewati fase cinta dan berkasih sayang yang dalam. Begitu juga sebaliknya. Welah.. malah curhat! 😀 😀 Oke, lanjuttt..!

Bersamanya, saya mengalami beberapa peristiwa indah dan bahagia dan sedih dan nestapa.. Ada saat-saat saya benci banget sama dia, ada saat saya kangen, ada saat saya ingin bermanja, ingin marah, bosan, malas, balik lagi cinta dan rasa sayang yang mendadak membuncah.. Semuanya! Cuma dia sosok yang bisa bikin saya deg-degan yang mendalam, nangis bingung, dan sedih luar biasa. Saya udah habis “ditelanjangi”, jiwa dan hati saya. Untuk itulah dia ada di samping saya sebagai pendamping hidup. Menutupi keburukan saya dan memelihara kebaikan saya, begitu juga sebaliknya. Kalo saya nggak ditelanjangi mana mungkin dia tahu keburukan dan kebaikan saya?

Selama menikah 1 tahun lebih ini saya dan suami sangat menikmati peran kami sebagai suami istri yang saling mencintai. Kami mendapati cinta kami makin tinggi kadarnya dari hari ke hari. Sebelum kami menikah, kami melakukan proses taaruf atau pendekatan. Kalo mo dibilang pacaran ya boleh lah, karena itu kata orang jaman sekarang, sedangkan kami menjalaninya pure pengenalan dan pendekatan serta pemahaman pribadi masing-masing.

Rasa cinta saya dapatkan justru dengan seiring berjalannya waktu saya dan beliau menjalin hubungan cinta. Bukan di awal pertemuan, di tengah masa pacaran atau di masa pacaran. Saya justru nggak suka dan benci dengan sosoknya itu. Bukan tipe!! Namun Allah Maha Besar. Saya tidak ragu lagi bahwa saat ini memang beliau tercipta untuk menjadi belahan jiwa saya.

Pengertian dan pemahaman atas karakter kami masing-masing kami peroleh justru setelah menikah. Setiap permasalahan yang datang tidak jarang menimbulkan sakit kepala luar biasa, air mata dan sport jantung. Seringkali adu argumentasi mewarnai perdebatan kami. Biasanya sih karena prinsip dan cara pandang kami yang memang jauh berbeda, karena kami memang berasal dari keluarga dengan latar belakang berbeda. Saya dari kalangan akademis dan peneliti yang menomorsatukan pendidikan serta pengetahuan sebagai bekal hidup. Sedangkan suami berasal dari kalangan pedagang dan menomorsatukan kerja keras untuk mendapatkan segalanya, dimana uang adalah yang utama sebagai bekal hidup.

Proses penyatuan dua pribadi yang berseberangan ini begitu complicated, artinya seringkali kami stuck dan nggak ada penyelesaian. Akhirnya? Hmm.. Ini yang akan saya tekankan: how to solve the differences between us. Mungkin cara kami bukanlah solusi yang terbaik buat yang sedang bermasalah, eheehe… tapi saya yakin bahwa masing2 pasangan akan menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan permasalahan mereka. Kali ini saya ingin berbagi bagaimana cara kami menyelesaikan masalah. Kayanya sok banget ya, baru nikah 1 tahun tapi udah bisa kasih advice, hahahaa! Makanya saya tujukan “how to” ini kepada mereka newly weds.

1. Listen First..

Biasanya, keributan dimulai dari hal-hal kecil. Hal kecil disini artinya sesuatu yang bersifat daily habit kita. Bisa karena suka lupa, suka mengupil, suka menaruh barang sembarangan, suka buang sampah seenaknya, cara bicara, cara menanggapi atas sesuatu, dll. Wajar, pasangan kita sebelumnya hidup dengan caranya, bukan dengan cara kita. Tidak jarang daily habit akan membuat pasangan menjadi tidak nyaman dan akhirnya

Berjuta-juta pasangan setuju dengan hal ini: Masalah yang datang adalah ujian yang harus dihadapi dan bukannya kita harus lari dari itu, karena siapa tahu masalah yang kita sedang alami akan membawa kita ke dalam kebaikan. Banyak nilai hidup yang akan kita dapatkan, yang membuat derajad hidup kita naik satu tingkat. IMHO, inilah bekal yang akan mengantar kita menuju rumah tangga sakinah mawaddah warrahmah.

Cara kami menyelesaikan masalah lah yang membuat kami awet sampai sejauh ini, dan semoga kami bisa terus awet sampe kakek nenek. Amin..

Cap Cay

Akhirnyaaaaaa!!

Setelah sekian lama saya mencari akhirnya dapet juga –> Resep Cap Cay enak!! Saya malah merasa cap cay bikinan saya lebih enak dari cap cay bikinan resto, hotel atau rumah makan chinese food. Cap cay buatan saya ga pake kekyan, tapi full sayur dan protein hewani. Jadi lebih sehat lah. Yuuk intip resep dan cara buatnya. Sssttt! Ada triknya lhoo..

Bahan:

2 buah wortel iris serong

1 buah brokoli, iris lepas sedang

1 buah kembang kol, iris lepas sedang

1 ikat sawi hijau, iris sedang

3 lembar sawi putih

6 buah jagung putren, iris lonjong

2 buah sosis ayam, iris serong

1 ons dada ayam fillet, potong dadu

1 gelas air

2 sdm minyak untuk menumis

Bumbu:

2 siung bawang putih, keprek, lalu cincang

1 buah bawang bombay sedang, iris tipis

1/2 sdt merica

1/2 kaldu blok rasa ayam

1/2 sdt minyak wijen

1 sdm saus tiram

1 sdt kecap ikan

1 sdt kecap asin

1 sdt saus tomat/saus cabe

garam secukupnya

gula sedikit

 

Cara membuat

1. Tumis bawang putih dan bawang bombay di atas wajan hingga layu dan harum, lalu masukkan potongan ayam, aduk rata hingga ayam setengah matang. Beri air untuk mematangkan ayam.

2. Masukkan wortel dan sosis. Aduk rata hingga wortel setengah matang (sebaiknya tutup dengan tutup panci/wajan saat mendidihkan wortel)

3. Masukkan jagung putren, aduk rata. Beberapa saat kemudian masukkan kembang kol, aduk rata. Tutup wajan, tunggu hingga sayuran agak matang.

4. Masukkan sawi putih dan sawi hijau. Aduk-aduk cepat.

5. Beri kaldu blok, minyak wijen, kecap asin, kecap ikan, saus, garam, merica, dan gula. Aduk cepat, cicipi. Segera angkat dan sajikan.

Trik masak capcay:

Hidangan cap cay akan terasa nikmat bila sayurannya terlihat segar, tidak lembek atau tidak terlalu matang (bahasa jawa: ladhuk). Triknya, masak semua bahan dengan api agak besar dan gerak tangan yang cepat saat memasukkan dan mengaduk sayuran cap cay.  Jangan terlalu banyak memberikan minyak wijen dan kecap asin, karena akan mengacaukan rasa.

Selamat mencoba yaa…