In the name of marriage

Banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan apabila seseorang telah melampaui tingkatan yang bernama Pernikahan. Begitu kompleksnya dimensi yang menyertai setiap langkah pasangan yang menikah, secara tidak sadar akan membawa pasangan itu memilih kepada dua arah: tetap bersama atau terpaksa harus berpisah. Orang, bisa lelaki atau perempuan, cenderung melakukan apa yang disenanginya, diimpikannya dan dihasratinya. Begitu juga saat orang itu memilih untuk menikah.

Apa sih yang ada dalam sebuah pernikahan, sehingga membuat orang tidak berhenti membicarakannya? Apa benar cuma memuaskan nafsu biologis saja? Kalau iya, kenapa harus ada masa menopause untuk perempuan? Kalau benar ga adil dong alasan ingin menikah adalah memuaskan hasrat biologis..

Apa sih yang membuat orang ingin menikah? Banyak! Atau apa sih yang membuat orang menggebu-gebu mencari pasangan hidupnya? Alasannya macam-macam pula. Lalu apa sih yang dicari setelah menikah? Mungkin ga banyak yang bisa menjawab. Kenapa? Apa karena pernikahan itu untuk status atau harta atau segala macam alasan keduniawian?

Ada yang bilang orang ingin menikah karena mencintai pasangannya dan ingin hidup bersamanya. Ada yang bilang orang ingin menikah karena udah waktunya nikah, alias udah cukup usia bahkan udah lebih cukup dari usia orang idealnya menikah. Ada juga yang bilang orang ingin menikah karena pasangannya udah hamil duluan. Ada yang bilang lagi orang ingin menikah karena pasangannya kaya dan diyakini bisa menjamin hidupnya dan anak cucunya kelak tanpa harus kerja keras. Ada lagi nih yang bilang kalo orang ingin menikah karena capek kelamaan pacaran atau kelamaan tunangan, jadi daripada udahan dan menanggung malu, mending nikah aja untuk membahagiakan orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak. Hohoo.. Alasan-alasan itu masih bisa bertambah karena manusia itu majemuk, selalu penuh pikiran-pikiran, tujuan dan visi misi.

Oke, anggap saja sekarang ada sepasang dewasa (usia 20 tahunan) yang lagi pacaran. Mesraaaaa banget! Di masa pacaran mereka selalu bahagia, penuh canda tawa, hati berbunga, kemana selalu berdua, peluk-pelukan, cium-ciuman, sayang-sayangan, obral kata cinta, pujian dll. Saking bahagianya mereka sampai lupa mengemukakan jati diri mereka yang apa adanya, lalu “lupa” untuk mengemukakan atau menunjukkan kelemahan mereka, “lupa” pula untuk menjadi diri mereka sendiri termasuk menunjukkan daily habit mereka. And the relationship goes..

Until one day, mereka memutuskan untuk menikah. Menjelang pernikahan keduanya agak sedikit tegang, sang lelaki grogi melepaskan status lajangnya, dan si perempuan grogi mempersiapkan pernak pernik resepsi pernikahan. Mulai deh muncul riak-riak kecil dalam setiap komunikasi mereka. Karena mereka masih memiliki kemesraan, masa itu bisa mereka lalui dengan baik. Sedikit sentuhan penuh kasih sayang dan kata maaf meluluhkan ketegangan masing-masing pasangan. Mereka tidak ingin ketegangan itu merusak hubungan mereka yang telah mereka bina sampai sejauh ini. Dan mereka memang masih cinta. And the reception goes perfect..

Satu tahun pernikahan

Perempuan itu memandang keluar jendela. Matanya terus mengeluarkan air mata. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia melihat suaminya sudah terbaring pulas di ranjang. Ini bukan pertama kali perempuan itu menangis. Dan sering air mata itu berhenti menetes namun meninggalkan bengkak di matanya. Ia terlambat pulang, harinya sangat melelahkan. Banyak peristiwa yang terjadi hari itu. Ia tak sabar ingin menceritakannya dengan suaminya saat ia pulang nanti. Namun sambutan dari suaminya sungguh di luar dugaan. Hanya intimidasi yang keluar dari bibir suaminya itu, seolah-olah ia melakukan banyak kesalahan hari itu. Padahal ia hanya ingin didengarkan, didukung, dan tidak disalahkan. Masih dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan, kemudian ia pergi tidur di samping suaminya tanpa ada pelukan hangat dari lelaki, yang pernah berpuluh-puluh kali mengucapkan kata cinta padanya, itu. Matanya perlahan terpejam diiringi hatinya yang bergemuruh menahan luka. Air matanya tetap jatuh dalam gelap. Dengan lirih ia bertanya, “Apa yang salah dengan semua ini?”

Apa yang membuat air mata perempuan itu sering tumpah setelah menikah?

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Matanya terpejam, sepertinya ia pulas tertidur. Namun ada gurat kecil di atas dahinya. Ia tampak kelelahan. Tampak sangat letih. Seharian ini ia bekerja banting tulang mencari nafkah untuk keluarga kecilnya: ia dan istrinya. Namun saat pulang kerja ia tak sanggup untuk berbuat apa-apa saat ditemukannya di atas meja makan tak ada lauk yang bisa memanjakan lidahnya. Istrinya terlambat pulang karena ada meeting dengan klien. Saat istrinya sudah di sisinya, ia ingin dipijat. Belum sempat meminta, istrinya terlebih dahulu mengatakan bahwa ia sangat kelelahan. Dan istrinya bercerita mengenai peristiwa yang terjadi di sepanjang hari itu. Namun ia terlalu capek mendengarkan, akhirnya ia menanggapi dan menyanggah seperlunya. Hal itu membuat hati istri terluka dan akhirnya mereka bertengkar. “Bilang ini salah, bilang itu salah.. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar capai! Aku tak peduli dengan apa yang kau ucapkan, bikin aku pusing saja!” desahnya sebelum tidur.

Apa yang membuat wajah lelaki mengeruh setelah menikah?

Sampai sini…

Siapa yang salah? Dan bagaimana harus menyikapinya?

Apakah baginya sudah tidak ada kebahagiaan? Apakah kebahagiaan harus hadir setelah kita berkorban menjadi orang lain? Tidakkah itu kurang adil baginya yang memang apa adanya? Perempuan itu menikah karena ingin bahagia, mencintai dan dicintai. Tampaknya ia tersadar oleh sesuatu. Bahwa pernikahan itu tidak cukup dengan cinta. Tidak cukup hanya dengan harta. Tidak cukup dengan ingin diperhatikan dan dicintai. Tidak cukup dengan pelukan dan ciuman. Lalu apa yang seharusnya menghidupkan pernikahan? Apa yang seharusnya membuat ia bahagia dalam pernikahannya? Mengapa sulit sekali baginya bergerak maju untuk bisa menerima apa adanya suaminya, apa adanya dirinya, dan apa adanya keadaan.

Kelelahan, ketidakpekaan, cemburu, ketidakromantisan, ketidakpengertianan, dll. Bagi pasangan muda, hal tersebut sangat rawan memicu pertengkaran. Tidak banyak pasangan yang menyadari arti pentingnya sebuah perbedaan. Misalnya pada saat kondisi pasangan yang termaktub di atas. Dalam kondisi tersebut, siapa yang harus mengalah? Siapa yang harus terlebih dahulu mengatakan “Maaf” dan memeluk pasangannya, sambil mengatakan semua akan baik-baik saja atau aku mencintaimu, atau apalah yang bisa menenangkan pasangannya?

Hampir tidak ada! Tidak ada yang bisa memulai. Masing-masing sibuk dengan batin dan pengharapannya sendiri2, harapan ingin dihampiri dan dipeluk terlebih dahulu. Hingga waktu yang menggiring mereka ke atas ranjang untuk tidur tanpa menyelesaikan masalah.

Bagi pasangan ini, pernikahan menjadi sangat sulit dalam kondisi itu. Dan sampai disini, pasangan itu belum juga memulai untuk berdamai dan mengucapkan cinta seperti yang mereka agungkan dulu. Mereka makin sibuk tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Tanpa ada pelukan dan ciuman mesra. Mereka terlalu capai bertengkar seperti itu.

Apa yang salah dengan semua ini? Sepertinya tidak ada yang salah. Memang dua duanya tidak bersalah. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Ending with nothing adalah kesia-siaan. Semoga mereka menemukan jalan keluar dari kepenatan dan keruwetan ini.