Kalau aku mati nanti…

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati sebagai syahid, yang rela mengorbankan nyawa demi Allah semata, yang rela memberikan jiwa ragaku ini hanya kepada Dia Pemilik Dunia.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati sebagai muslim. Aku ingin mati dalam keadaan baik, dan dalam keadaan beribadah kepadaNya.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin menghembuskan nafas terakhirku dengan berada di dalam dekapan orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku, mungkin suamiku, anak-anakku, orang tuaku, sahabat-sahabatku dan saudara-saudaraku.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati setelah menunaikan kewajibanku, menjadi istri dan ibu yang baik, yang selalu dikasihi dan disayangi oleh keluargaku, yang telah melahirkan mujahid mujahid muda yang senantiasa berjuang di jalan Allah.

Aku sangat ingin bertemu denganNya, dalam keadaan iman islam yang tidak akan bisa tergantikan oleh nikmat apapun.

Kalau aku mati nanti, inilah yang ingin aku sampaikan:

1. Aku sangat mencintai dan menyayangi keluargaku. Ibuku: Titik Ruchayati, Ayahku: Suharyanto Anwar, Adikku: Putri Dwi Haryati, Eyangku: Djayus Wirjopranoto, dan Tanteku Siti Irianti. Dari mereka lah kisah hidupku berawal. Aku tidak akan menyebutkan apa saja yang aku dapat dari mereka. Aku hanya bisa mengatakan bahwa hanya pada merekalah aku berterima kasih atas segala pelajaran hidup yang aku alami. Kepada merekalah aku bersandar.

2. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku sangat mencintai suamiku, apapun dan bagaimanapun kondisinya. Di dunia ini dia adalah salah satu orang dalam posisi tertinggi dalam hatiku, dimana aku takut kehilangan sosoknya. Dialah belahan jiwaku, dan karenanyalah aku berani menghadapi cobaan hidup. Satu hal yang aku selalu ingat darinya adalah, dia orang yang sangat penyayang. Tidak sekalipun dia menyakitiku, walaupun aku telah melakukan kesalahan yang besar, dia selalu penuh kasih sayang menerima aku apa adanya. Aku sangat suka ciumannya dan pelukannya. Hangat. Dan saat dia mengatakan bahwa aku adalah cinta pertamanya, saat itulah aku yakin bahwa dialah cinta terakhirku dan dialah yang sudah memenangkan hatiku.

3. Aku sangat mensyukuri kehidupanku. Lahir dengan keluarga yang harmonis, damai dan sejahtera. Ayahku, Ibuku dan Adikku, kepada merekalah aku berterima kasih telah membekaliku jurus-jurus untuk menghadapi kejamnya dunia.

4. Aku sangat bersyukur sekali hidup dengan iman islam, menjadi muslimah yang selalu berjuang mengatasi ego diri sendiri yang kerap tidak mau bersyukur padaNya. Dan aku tidak takut apapun, bahwa semua yang berwujud pasti akan menghilang dengan sendirinya.

5. Aku sangat kecewa saat tahu bahwa hidupku tidaklah semulus yang aku bayangkan. Aku ingin selalu berada dalam kondisi damai dan tanpa sentuhan hitam. Namun aku sadar bahwa disitulah cobaan yg Allah berikan padaku supaya aku tegar dan naik derajad. Kemudian aku sangat bahagia dan bersyukur bahwa Allah mengujiku dengan cobaan-cobaan hidup.

6. Aku bersyukur bahwa saat aku berada dalam kondisi yang tidak baik dan terpuruk, aku memiliki dua senjata sebagai penolongku, yaitu sabar dan sholat. Alhamdulillah hingga kini aku merasakan manfaatnya. Aku akhirnya sadar, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Subhanallah.

7. Aku sangat mencintai keluargaku dan keluarga suamiku. Kepada mereka lah aku membagi seluruh kasih sayangku, dan aku merasa mendapatkan kasih sayang berlimpah dari mereka.

Begitulah.

Kalau aku mati nanti, aku ingin saat aku menghuni “rumah masa depanku” yaitu kuburku, aku ingin kuburku lapang, cerah dan terang, penuh cahaya.

Kalau aku mati nanti, aku ingin bisa menjawab dengan sempurna pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir, akan siapa Tuhanku, apa agamaku dan siapa Nabiku. Karena tiga pertanyaan itulah awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur yang akan aku terima nanti.

Kalau aku mati nanti, saat aku memasuki alam kubur, aku ingin dijauhkan dari siksa kubur yang amat pedih, diberi nikmat dan mendapat perlindungan dari Allah.

Dan kalau aku mati nanti, aku ingin mati dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, agar aku bisa mati dengan tenang, meninggalkan seluruh duniaku.

====

Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri,

“Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?”

Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?”

Lalu beliau menangis.

=====

Lalu aku menghela napas dalam-dalam,

Aku harus siap untuk mati! InsyaAllah..

Jakarta, awal Juni 2010

Iklan