Tidak ada yang abadi

Semua orang menginginkan keabadian. Mulai dari kekayaan, dunia, hingga hubungan interpersonal. Padahal sunnatullah bahwa segala sesuatu yang berawal pasti akan berakhir (memiliki akhir). Konteks itu yang ingin saya share disini. Emang saya mau share apa sih? Kayanya penting banget.. hehe.. Enggak penting juga gapapa sih, ya siapa tau ada beberapa orang di luar sana yang mengalami hal seperti saya.

Saat ini bisa dikatakan hidup saya sangat sempurna. Keluarga bahagia, suami yang sangat mencintai saya, kekayaan yang cukup untuk menghidupi saya dan keluarga, hingga lingkungan interpersonal yang sangat mendukung saya.

Kejadiannya bermula dari beberapa waktu lalu, saya mengalami kondisi yang tidak saya harapkan. Hubungan interpersonal saya dengan beberapa rekan dekat saya mengalami masalah pada komunikasi. Intinya miskomunikasi inilah yang merusak hubungan kami. Entah dari mana asalnya, namun yang jelas masalah ini cukup membuat hubungan kami menjadi berjarak. Kami tidak lagi saling berinteraksi selayaknya hubungan teman. Namun alhamdulillah saya sudah cukup kuat untuk menghadapinya, sehingga saya merasa bahwa cobaan yang Allah berikan pada saya adalah cobaan yang saya anggap akan mendewasakan saya dan rekan-rekan saya. Saya hanya manusia biasa yang harus bisa mengambil manfaat positif, hikmah dan pelajaran dari semua. Hubungan kami memang sudah tidak seperti sediakala. Namun saya yakin selalu ada akhir yang baik untuk masing-masing pribadi.
Sebagai manusia biasa pula, saya tentu tidak luput dari kesalahan. Semoga Allah mengampuni dosa saya.

Masalahnya sebenarnya sih sepele. Tapi efek yang ditimbulkan tak dinyana bisa sebesar ini. Pelajarannya adalah: saya harus lebih berhati-hati terhadap orang lain, agaknya mempercayai ungkapan “trust noone” adalah yang pantas saya sandang saat ini. Kenaifan saya sering membawa saya ke dalam pusaran masalah yang kompleks, maka pelajaran berikutnya adalah “jangan terlalu jujur pada orang lain”.

Well.. dari awal kami menjalin hubungan pertemanan memang ada kerikil2 yang dirasa sangat mengganggu. Egoisme dan Realisme seseorang dalam lingkaran hubungan interpersonal itu bisa sangat mengganggu kita dalam menjalani kehidupan kita sendiri. Karena itulah pelajarannya adalah: “Berusaha untuk tidak mempedulikan hal yang dirasa akan menyakitkan kita di kemudian hari”
Terkadang pula masalah itu datang tidak memandang ruang, waktu dan posisi kita. Jadi pelajaran berikutnya adalah: “harus tahu diri dimana kita berada, karena apa dan untuk apa”.

Ya sekarang ini posisi saya biasa aja. Beberapa titik egoisme saya dan mereka telah membuat mata saya buta terhadap kehadiran mereka. Sesimpel itukah? Ya. Saya pernah merasa sangat tersakiti dengan mereka, pihak ketiga menjadi pemicu parahnya masalah kami. Yah jadi efeknya ketika semua ter blow up adalah saya seperti menganggap mereka tidak ada di lingkaran saya. Saya hanya akan mengerjakan dan menjalani hal2 yang bermanfaat bagi orang lain, tapi saya masih butuh waktu untuk bisa memaafkan apa yang telah pihak ketiga dan rekan2 saya perbuat pada saya.

Tahukah anda? Ini kedua kali saya mengalami hal ini. Perkataan yang saya ucapkan diinterpretasikan lain oleh pihak ketiga, dan saya merasa seperti diadu domba. Namun tidak ada yang bisa saya lakukan dengan hal itu selain pasrah dan menerima dengan lapang dada segala yang terjadi. Karena membela diri toh juga tidak ada gunanya. Semua sudah berubah. Saya selalu berusaha untuk bersandar pada tingkah Rasul yang tidak mendendam kepada mereka yang telah menyakiti kita.

Well.. seburuk2nya hubungan kami, dengan kami tidak saling menyapa lagi, at least membuat saya jauh lebih tenang. Saya tidak perlu lagi repot dengan beberapa kepentingan yang menguras energi dan pikiran saya. Saya dan rekan2 saya itu mungkin saja telah menjadi korban dari sebuah sistem yang absurd. Namun kausalitas dari masalah ini (saya percaya) akan membawa kami semua pada kebaikan. Waktu untuk itu tak perlu saya tunggu. Ia akan datang dengan sendirinya. Saya yakin. Dan mereka? Walau hubungan pertemanan kami sepertinya telah menemui akhir, namun bagaimanapun juga mereka masih teman2 saya. Kami pernah bercanda bersama dan berbagi kegembiraan kesedihan dan kekonyolan bersama.

Dan dengan perasaan yang mendalam, saya selalu mendoakan agar mereka selalu bahagia dan baik-baik saja.

Iklan