Weird phase?

Ada sesuatu dalam diri saya saat ini yang saya tidak tahu apa namanya. Saya akan menyebutnya: fase yang aneh. Kenapa aneh? Hmm.. saya sendiri nggak tahu persis apa penyebabnya. Tapi “sesuatu” itu cukup membuat saya kewalahan menanganinya. Saya cukup dibuat susah payah menghalaunya. Fase aneh itu saya yakin banyak yang mengalaminya. Dan untuk melaluii fase itu, dibutuhkan extraordinary thought and action yang kuat. Tapi memulainya dari mana saya juga bingung.
Hmm…
Beberapa hari ini saya berusaha dengan keras untuk memilah-milah dan menganalisa apa yang sebenarnya membuat saya mengalami fase yang aneh ini.
Saat ini saya 27 tahun. Orang bilang masih muda (tssaaaahhh!) Tapi menurut saya, udah mulai ada kerutan di wajah tuh… berarti udah hampir STW kali ya ehehheee..
Selama itu pula banyak sekali hal yang berubah. Siklus hidup, pandangan hidup, prinsip, momentum, dan lain-lain. Diantaranya membuat saya bahagia dan juga membuat saya tidak bahagia.

Hidup saya menjadi lebih menantang setelah lulus dari perguruan tinggi. Saya digiring oleh Allah SWT untuk keluar dari zona aman. Begitu lulus kuliah dengan embel-embel gelar S1 dari Perguruan Tinggi Negeri di Bandung, saya mulai mencari pekerjaan. Syukurlah, hanya diberi waktu menganggur selama 1 bulan saja sebelum akhirnya mendapat pekerjaan sebagai Librarian di salah satu universitas negeri di Jakarta. Gaji saya waktu itu cukup lah buat bayar sewa kontrakan dan makan. Emang belum bisa kasih ke orang tua, tapi paling nggak bisa memberi mereka ketenangan lah, bahwa anaknya ini sudah bisa punya penghasilan sendiri. Selama beberapa bulan bekerja disana, saya menemukan dunia bar: dunia kerja. Konflik di kalangan akademis dan premanisme pendidikan mulai saya ketahui. Cukup jadi catatan kaki saya.

Seiring dengan pelajaran-pelajaran dalam pekerjaan yang saya dapat, saya memutuskan untuk mengatur pola makan. Berawal dariiseng-iseng baca buku Food Combining, buku itu ternyata malah sukses mengantarkan saya menuju kesehatan yang ideal. Dengan FC saya nggak pernah sakit lagi. Kalaupun saya merasa pusing paling karena kecapean aja, itupun cukup disembuhkan dengan istirahat dan makan bergizi. Setelah ber FC selama 5 bulan, efeknya mulai terlihat, metabolisme tubuh saya membaik, dan berat badan sebanyak 13 kilogram habis terkikis. Dari semula BB saya 73 kg menjadi 60 kg. Dengan tinggi badan 163 cm, saya pikir cukup proporsional lah bentuknya, mengingat tulang tubuh saya memang besar, jadi nggak cuma lemak doang yang ada di tubuh saya, yang membuat tubuh saya keliatan gedeee… Hehehe! Saya sangat bahagia dengan pencapaian itu, semacam satu langkah yang sempurna dalam hidup. Saya jadi lebih happy dan semangat dalam beraktivitas.

Menginjak tahun kedua, saya memutuskan untuk pindah kerja. Saya sangat tertarik dengan dunia pendidikan, karenanya saya melamar sebagai pengajar di kampus saya. Saya ingin dekat dengan ilmu yang saya pelajari. Setelah berbulan-bulan menunggu panggilan, akhirnya… Diterima!

Untuk menjadi pengajar tidak tetap disana bayarannya tidak banyak, bahkan sangat jauh dari layak. Namun menjadi bagian dari kehidupan kampus adalah keinginan saya yang terkabul, sehingga saya merasa sangat bahagia saat kampus mau menerima saya menjadi pengajar disana.

Di kampus saya mulai mengalami berbagai situasi yang membuat hati saya lebih bahagia. Selama saya disana, sepertinya ada energi berlebih yang saya punya untuk setiap harinya, seperti minum doping lah. Saya bisa melakukan apa saja yang saya suka terkait dengan pengembangan ilmu pengetahuan saya. Padahal sih nggak banyak yang saya lakukan, hehe.. Masih kalahlah sama beberapa rekan saya yang memang gape dan pintar, punya kegiatan ini itu di luar kampus.. Tapi saya berusaha menikmati setiap proses pembelajaran itu. Waktu itu saya pikir, saya nggak mau memaksakan diri dan kemampuan saya untuk menjadi yang terbaik.

Pengalaman membuktikan bahwa bersaing dengan melampaui kekuatan sendiri hanya akan membuat frustasi. Jadi ya saya membiarkan diri saya terhanyut dalam kebebasan, bebas berkehendak dan bertingkah laku dalam hal pencarian ilmu. Yang bisa saya lakukan ya saya lakukan, kalo nggak bisa nggak akan maksa harus bisa, tapi kalo udah berusaha tetep nggak bisa juga? Ya saya berhenti untuk mencari celah yang lain yang bisa saya lakukan. Never fight-nya saya ya begitu, hehehee.. Aneh ya? Tapi apa yang saya dapatkan? Banyak! Kesempatan untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan diri dengan kapasitas yang lebih sering dari yang sebelumnya. Itulah yang membuat saya menjadi pribadi yang progresif. Nampaknya, itulah yang menjadi harta saya saat itu. Bukan harta uang (karena gaji nggak seberapa…), tapi harta kebahagiaan jiwa. Saya sangat mensyukuri karunia yang luar biasa dari Allah.

Bukan cuma itu saja. Ada doa, cinta dan kasih sayang berlimpah dari keluarga, sahabat-sahabat dan teman dekat yang menjadi bahan bakar saya mengarungi hari. Sehingga hari yang berat terasa lebih ringan untuk dijalani. Secara natural, mereka menggiring saya untuk bisa bebas menafsirkan dengan positif tentang hidup ini. Sebelumnya saya bukanlah perempuan yang bisa dengan bebas berpendapat, berbagi hal yang sensitif, berbagi pandangan, dll. Dengan sahabat-sahabat dan teman dekatlah saya akhirnya bisa. Dengan merekalah pikiran saya menjadi terbuka.

Akhirnya, menjadi pribadi yang lepas, apa adanya dan jujur, bisa saya rasakan juga. Tanpa harus terkekang oleh kepalsuan dan kamuflase sosial. Seiring dengan itu, beberapa kepahitan dunia mulai saya temukan: realita masalah sosial, kesenjangan derajad manusia, kemunafikan, dll, yang menuntut saya untuk lebih bijak dalam memutuskan, memberi penilaian dan menyikapinya. Mungkin inilah luar biasa dan Maha Besarnya Allah. Ia tak segan untuk memberi anugerah pada kita misalnya dengan meningkatkan keimanan dan derajad kita melalui kehadiran sahabat.

Sebagai manifesto dari itu semua, serangkaian keinginan-keinginan terbentuk dalam hati dan pikiran saya, yang mungkin bisa disebut resolusi hidup (cailaaaah…!):

- Menjadi Ibu yang baik dan demokratis serta tidak mengekang,

- Menjadi Istri yang baik dan selalu disayang suami,

- Meraih gelar Master dari Perguruan Tinggi di Australia atau Inggris atau Amerika. Kalau bisa di Inggris, karena di negara inilah ilmu saya berkembang dengan baik.

- Meraih karir everlasting di bidang ilmu saya: Pengajar di Universitas atau Library Manager di universitas atau lembaga ilmu pengetahuan.

Itulah empat fokus utama saya saat ini. Namun sepertinya ada sedikit kendala. Empat-empatnya belum bisa saya raih dengan sempurna. Sehingga memacu saya berusaha lebih giat lagi.

Impian saya sangat besar untuk bisa meraih pencapaian tertinggi dalam hidup: menjadi pengajar yang berkualitas, yang bisa selalu berbagi ilmu dengan orang lain karena “tidak akan miskin seseorang dengan berbagi”. Saya yakin akan bertambah “kaya” dengan kita berbagi dan selalu merunduk. Sampai pertengahan tahun selanjutnya, impian itu masih awet ada dalam ingatan dan obsesi saya. Yang membuat saya hidup adalah impian dan harapan saya: menjadi dosen tetap dan mendapat beasiswa studi ke luar negeri untuk mendapatkan ilmu tingkat lanjut di bidang saya.

Sampai akhirnya tiba waktunya saya harus memilih. Saya tidak akan pernah lupa saat itu. Pertengahan tahun 2007. Pilihan yang sungguh sangat berat: tetap stay di kampus menjadi pengajar atau hijrah ke Jakarta karena ada tawaran kerja menarik dengan gaji yang lumayan besar. Kalo saya stay di kampus berarti siap dengan gaji ga seberapa sedangkan mobilitas saya tinggi, ayah saya sudah pensiun tak bisa lagi menyokong biaya hidup saya. Sedangkan kepastian untuk menjadi dosen tetap disana tak kunjung datang, melihat beberapa orang rekan saya sudah mengincarnya, mereka bahkan sudah mendapat gelar S2 dan tinggal menunggu pengumuman penerimaan CPNS di kampus.

Dengan berat hati saya meninggalkan kampus tercinta, dengan segenap cinta-cinta dan hal2 yang hangat untuk saya. Salah satu rekan seperjuangan saya, salah satu sahabat terbaik saya asal Palembang, tetap teguh untuk berada di kampus. Untuk keteguhan hatinya berada disana saya acungkan jempol, semoga ia bisa terus berkarya dengan baik dan saya selalu menantikan kabar baik darinya. Setelah beberapa kali shalat istikharah, Allah menunjukkan pada saya jalan, dan secara natural dengan berat hati saya memilih untuk hijrah ke Jakarta. Saya mengadakan farewell party dengan teman2 kampus saya, sederhana, saya masak dan meladeni mereka dengan masakan saya. Cuma ayam goreng dan sayur kangkung sama sambel tapi momennya cukup berkesan untuk saya. Menjelang saya pindah ke Jakarta, tak sampai hati berpisah secara langsung dengan rekan kerja saya di kampus, karena akan membuat saya tak kuat menghadapinya. Akhirnya saya pergi diam2 dan pamit lewat SMS di perjalanan saya menuju Jakarta. Di luar dugaan, SMS balasan datang bertubi2 dari rekan2 dosen dan pegawai kampus. Mereka sangat menyayangkan kepergian saya, dan berharap akan kembali lagi. Setelahnya, hal itu cukup bisa membuat air mata saya jatuh berderai begitu saja. Saya sungguh sangat terharu. Semoga Allah senantiasa memuliakan mereka, rekan2 dosen yang sangat saya sayangi dan hormati.

Pekerjaan saya selanjutnya adalah sebagai Research Assistant merangkap Research Operator merangkap Research Administration merangkap Information Intelligent dan tentu saja Librarian! Pekerjaan gado-gado tapi cukup menantang! Ditambah owner perusahaannya luar biasa aneh, jadi tambah menantang deeeh.. :D

Fase hidup berlanjut. Di tengah kesibukan saya berkarir di Jakarta, saya dipertemukan dengan seorang pria (yang kelak akhirnya jadi pendamping hidup saya). Saya biasa memanggilnya Mas Ganteng atau kadang-kadang Mas Kudup, karena matanya sipit. Cerita mengenai dia bisa dibaca disini. Setelah menikah, perjalanan hidup yang seru dimulai. Salah satu perjalanan kami ada disini. Warna-warni kehidupan setelah menikah membuat hidup saya tidak lagi bisa atas nama sepihak, baik setiap keputusan yang saya ambil maupun apa yang saya lakukan. Dari berbagai penyesuaian, terciptalah pola hubungan suami istri seperti sekarang: demokratis, penuh cinta dan gokil. Kami baru satu tahun menikah, dan saat ini kami merasa makin hari semakin terasa kuat. Semoga Allah selalu bersama kami.

Rutinitas kami adalah rutinitas kaum urban yang bekerja keras demi menyelamatkan masa depan. Artinya kami ingin menabung sebanyak mungkin agar kelak kami dan anak-anak bisa hidup tenang di suatu desa impian kami, kami ingin menjadi wiraswasta. Rumah impian kami akan dikelilingi binatang-binatang piaraan, peternakan, perkebunan sayur, buah, dll. Yang pasti: udara sejuk selalu menyelimuti kami. Hmmm…

Sampailah saya di hari ini: Hari yang aneh!

Tiba-tiba perasaan aneh menyeringai di depan saya. Seakan-akan saya tidak memiliki daya lagi untuk melanjutkan hidup. Dihiasi dengan berbagai isyarat yang aneh: bangun pagi dengan suasana hati yang berat, kerja tidak semangat, pekerjaan rumah tangga terbengkalai (saya lupa kapan terakhir saya memasak sayur), senyum saya jadi mahal, badan mudah lemas, pikiran tidak fokus, suka mengeluh, tidak lagi suka makanan sehat, jadi suka ngemil, metabolisme pembuangan kotoran dari dalam tubuh menjadi tidak lancar, dll. Yang paling menakutkan, saya seringkali hampir menabrak, terserempet, “mencium” pantat motor dan menyenggol kendaraan yang lewat karena melamun di jalan! Isyarat-isyarat negatif itu meyelimuti saya selama hampir sebulan ini. Apa yang terjadi pada diri saya sebenarnya? Apa yang membuat saya begini? Di sisi hati saya yang lain berusaha untuk menolak segala aura negatif. Tampaknya harus berdamai dengan waktu, keadaan, sikon, dll. Tapi bagaimana? Karena… itu tidak mudah!

Saya harus menganalisa, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam diri saya:

- Rutinitas pekerjaan dan berbenturan dengan sistem: kantor saya termasuk yang memelihara sistem Orde Baru. Saya rasanya kok masih belum nemu celah buat mengembangkan diri dan ilmu saya ya disini.. Hmm.. Dimana ya saya harus cari celah itu?

- Jarak rumah terlalu jauh dengan tempat kerja (LA-Pluit): Dengan mengendarai sepeda motor (saya beri nama Chihuahua, panggilan untuk Honda Blade saya, hehe..), menghabiskan waktu kurang lebih 4 jam setiap hari untuk pulang pergi.

Mungkin itu dua hal terbesar yang membuat saya merasa cepat lelah. Tentu saja saya tidak menyalahkan situasi dan kondisi saya sekarang, saya hanya merasa sangat jenuh mungkin.. Dan saya bingung harus bagaimana..

Saya ingin kembali berenergi seperti dulu, energi berlebih untuk melakukan hal biasa yang berdampak luar biasa. Saya pikir inspirasi dan energi saya mungkin tengah tidur, namun saya akan bangun untuk bangkit kembali. Kapan? Saya tidak bisa memprediksi, tapi yang pasti tidak lama lagi, karena saya yakin situasi ini akan segera membaik. Saya tengah memancarkan energi positif dalam diri saya. Saya tidak mau terjebak terlalu lama dalam situasi ini.

Tiba-tiba saya ingat bagaimana saya dahulu memiliki impian yang membuat saya hidup. Yaitu menjadi pengajar dan melanjutkan studi saya, sebagaimana yang selalu ditanamkan Ayah saya. Saya pernah diskusi dengan suami mengenai keinginan saya kembali ke kampus dan melanjutkan studi, termasuk bagaimana jika saya apply beasiswa. Beliau sangat setuju, karena pada dasarnya ia mendukung apapun aktivitas yang saya ingin lakukan. Apalagi kami belum dikaruniai momongan. Namun ternyata kondisi tak semudah keinginan. Saya hingga hari ini belum mendapatkan kesempatan itu. Saya terkadang berpikir, apakah saya masih layak bersaing dengan yunior2 saya? Atau saya terlalu idealis? Namun saya yakin bisa. Saya tetap sabar sambil menjalani kehidupan saya saat ini. Energi saya yang ada dahulu tetap saya pelihara untuk hal positif yang saya kerjakan saat ini. Saya harap ini akan membantu saya menjadi lebih semangat lagi di tengah fase yang aneh ini. Tak dipungkiri, saya sangat ingin meraih impian saya itu. Semoga Allah mendengar doa saya. Namun saya siap tidak siap harus siap untuk menerima apapun yang terjadi di depan, karena “sesungguhnya di balik sesuatu yang tidak kamu sukai ada kebaikan untukmu”.

Saya ingat pesan ibu saya: Kamu sudah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga yang bekerja. Kamu akan menghadapi banyak tantangan ke depannya nanti, jika kamu menemukan kesulitan menghadapi situasi dan kondisi, perbanyaklah istighfar, sertai dengan sabar dan ikhlas, walopun nggak mudah, tapi yakinlah, kamu pasti bisa melewatinya. Allah tidak tidur, Ia tahu apa yang hambanya sedang alami. Mintalah dengan doa yang tulus dan merendah, insyaAllah Ia akan mendengar keluh kesahmu, dan memberi jalan yang terbaik untukmu..

Mungkin saja ini cobaan dari Allah untuk mempertebal iman saya. Saya harap bisa segera melewati fase ini dengan baik. Semoga…

Dessert Penghilang Duka

Hah?? Judul makanan apa itu: Dessert Penghilang Duka..! Hehe..

Ceritanya sih simpel.. Hari Senin kemaren, I hate Monday banget deh! Pulang kerja lagi capek-capeknya. Rute Lentang Agung – Pluit emang ganas! Pengendara sepeda motor di Jakarta sangat liar, belok sana belok sini, trabas sana trabas sini, belum lagi kena macet dari jembatan tiga sampe mampang. Polusi udara yang disumbangkan oleh metromini rongsokan menambah pusing kepala. Wwwfff!! Mana seharian di kantor ada aja yang bikin otak spanneng dan hati panasss! Haduuuuuuuuu….!!!

Kalo dah gitu, begitu sampe rumah pengennya ngadem, mandi trus tidur.. Tapi mana bisa.. pakaian dan piring kotor udah pada melambai-lambai pada minta mandi. Lantai belum disapu dan dipel, perabotan belum dibersihin dari debu. Belum menyiapkan makan malam buat suami kalo pulang kerja… Rasanya kok bikin badan jadi lemes ya..

Yah itulah sekedar intermezzo, resiko ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah. Ritme kerja sehari-hari saya seperti itu. Bangun pagi jam 4.30, terus masak dan siapin sarapan, mandi, dandan, berangkat kerja jam 6 kurang dikit, sampe kantor jam 7. Pulang kantor jam 3.30, nyampe rumah jam 6-an. Waktu berangkat dan pulang kantor beda banget. Kalo berangkat kerja, kalo jalanan lagi lancar (lewat jalur busway, hehee..) dan agak ngebut sih rute itu bisa menghabiskan waktu sekitar 45 menit. Tapi kalo pulang? Jangan ngarep bisa 45 menit. Paling sedikit 1,5 jam. Rata-rata tiap hari saya spend 3,5 jam buat PP LA-Pluit-LA. Berasa tua di jalan jadinya saya hehe..

Begitu saya pulang sampe rumah, yang saya lakukan biasaya ngadem, duduk bentar, nonton tipi bentar, sambil makan buah. Tapi kemaren saya lagi nggak pengen makan buah. Pengen something different gitu yang bisa menambah volume manis di lidah (yang otomatis menambah volume lemak di perut jugaa.. hehe). Saya mulai cari-cari makanan di kulkas… Ada ice cream triple fruits, biskuit oreo, wafer rasa vanilla dan cake coklat sisa party ma suami kemaren. Kalo dimixing jadi satu seru juga..

Saya siapkan mangkuk mini (diameter kurleb 5 cm-an lah..). Kemudian saya ambil satu potong cake coklat, trus di atasnya diberi satu scoop es krim triple fruits. Wafer vanilla dihancurkan, lalu taburkan es krim dengan remahan wafer. Last touch is … tancepin oreo di atasnya, dan… Voila! Dessert Penghilang Duka siap untuk dinikmati. Rasanya gaaaan… hmm.. :D

Setelah ituuuu… semangat lagi rasanya! Bener lho..! Pasokan energi dari gula sudah terpenuhi. Gula darah naik, energinya ikutan naik. Artinya siap untuk aktivitas lagi.. Beres-beres dapur, masak, nyuci dan mandi.. Wuah! Jadi segerrrr… Jam 9 malam suami pulang, rumah rapi dan hatipun riang.. Welcome home, sayang… ;)

(Awal November 2009)

Bakwan Gungju (Jagung Keju)

Iseng-iseng bikin bakwan jagung pake keju, enak juga, hehe…

Bahan:

1 butir jagung, pipil.

1/4 bagian keju, potong dadu

1 batang daun bawang, iris tipis

1 sdt daun seledri cincang

50 gr tepung terigu

30 gr tepung beras

Haluskan:

1 siung bawang putih

2 butir bawang merah

Garam secukupnya

Merica secukupnya

Cara membuat

1. Campur tepung terigu dan tepung beras dengan bumbu halus dan air, hingga rata.

2. Masukkan jagung pipil dan keju dadu, aduk rata.

3. Ambil satu demi satu sendok, goreng di atas wajan dengan minyak banyak dan panas hingga matang kecoklatan. Angkat, sajikan hangat-hangat.