Nyaman..

Nyaman sekali akhir akhir ini di Library, walaupun banyak koleksi yang mesti diolah, karena ada kiriman (36 boks buku!!) tapi saya merasa nyaman banget di library. Selain tata ruang yang menjadi lebih variatif, juga tenang banget buat ngadem.
Kalo tadinya saya repot banget koar2 kasi warning (tulisan dinding nggak ngefek) sama banyak anak2 buat pada nggak tiduran di carpet area, sekarang area karpet ditempatin rak buku, sehingga ga ada lagi tempat buat mojok, tiduran atau sembunyi sambil main2.

Meja ruangan baca juga makin nyaman. Ada tambahan tiga meja yang menghias ruang baca. Satu meja persegi gede, yang dua meja bulat. Itu memungkinkan siswa punya space yang lebih private buat belajar saat di Library.

Koleksi buku-buku juga makin banyaaak! bikin pusing ngatur dan ngolahnya. Maklum saya sendirian di library melakukan semua tugas. Dan dalam kondisi hamil seperti sekarang ini, saya bener-bener maleeeees banget ngapa2in. Apalagi saya menghindari pekerjaan berat. Alhasil, shelving sedikit keteteran. Ya akhirnya tunda tunda deh shelving sampe numpuk. hehe..

Anyway.. suasana ini akan sangat saya rindukan. Dari awal Library jadi tempat ngumpul teacher, sampe sepii.. bukan lagi tempat ngumpul teacher.

Mulai dari anak-anak yang super bandel, super aktif, super diam, super gokil dll.. mereka telah mewarnai hari-hari saya di library.

Atau melihat tingkah anak kindergarten dan playgroup atau preschool, ga akan ada yang nyangka gimana mereka di masa depan. Beberapa anak2 SMP dan SMA yang bandel2 itu juga mereka memiliki masa kecil yang inosens. Lingkungan dan keluargalah yang membentuk mereka menjadi pribadi yang keras, dan sanggup memberi warna tersendiri bagi library saya. bikin saya cukup sport jantung menangani “keganasan” mereka! hehe..

Beberapa perubahan itu akan saya kenang. Sebentar lagi saya akan cuti panjang dari sini dan ga akan balik lagi. Dan yang pasti saya bersyukur berada di tempat ini, sampai sekarang.🙂

Tidak ada yang abadi

Semua orang menginginkan keabadian. Mulai dari kekayaan, dunia, hingga hubungan interpersonal. Padahal sunnatullah bahwa segala sesuatu yang berawal pasti akan berakhir (memiliki akhir). Konteks itu yang ingin saya share disini. Emang saya mau share apa sih? Kayanya penting banget.. hehe.. Enggak penting juga gapapa sih, ya siapa tau ada beberapa orang di luar sana yang mengalami hal seperti saya.

Saat ini bisa dikatakan hidup saya sangat sempurna. Keluarga bahagia, suami yang sangat mencintai saya, kekayaan yang cukup untuk menghidupi saya dan keluarga, hingga lingkungan interpersonal yang sangat mendukung saya.

Kejadiannya bermula dari beberapa waktu lalu, saya mengalami kondisi yang tidak saya harapkan. Hubungan interpersonal saya dengan beberapa rekan dekat saya mengalami masalah pada komunikasi. Intinya miskomunikasi inilah yang merusak hubungan kami. Entah dari mana asalnya, namun yang jelas masalah ini cukup membuat hubungan kami menjadi berjarak. Kami tidak lagi saling berinteraksi selayaknya hubungan teman. Namun alhamdulillah saya sudah cukup kuat untuk menghadapinya, sehingga saya merasa bahwa cobaan yang Allah berikan pada saya adalah cobaan yang saya anggap akan mendewasakan saya dan rekan-rekan saya. Saya hanya manusia biasa yang harus bisa mengambil manfaat positif, hikmah dan pelajaran dari semua. Hubungan kami memang sudah tidak seperti sediakala. Namun saya yakin selalu ada akhir yang baik untuk masing-masing pribadi.
Sebagai manusia biasa pula, saya tentu tidak luput dari kesalahan. Semoga Allah mengampuni dosa saya.

Masalahnya sebenarnya sih sepele. Tapi efek yang ditimbulkan tak dinyana bisa sebesar ini. Pelajarannya adalah: saya harus lebih berhati-hati terhadap orang lain, agaknya mempercayai ungkapan “trust noone” adalah yang pantas saya sandang saat ini. Kenaifan saya sering membawa saya ke dalam pusaran masalah yang kompleks, maka pelajaran berikutnya adalah “jangan terlalu jujur pada orang lain”.

Well.. dari awal kami menjalin hubungan pertemanan memang ada kerikil2 yang dirasa sangat mengganggu. Egoisme dan Realisme seseorang dalam lingkaran hubungan interpersonal itu bisa sangat mengganggu kita dalam menjalani kehidupan kita sendiri. Karena itulah pelajarannya adalah: “Berusaha untuk tidak mempedulikan hal yang dirasa akan menyakitkan kita di kemudian hari”
Terkadang pula masalah itu datang tidak memandang ruang, waktu dan posisi kita. Jadi pelajaran berikutnya adalah: “harus tahu diri dimana kita berada, karena apa dan untuk apa”.

Ya sekarang ini posisi saya biasa aja. Beberapa titik egoisme saya dan mereka telah membuat mata saya buta terhadap kehadiran mereka. Sesimpel itukah? Ya. Saya pernah merasa sangat tersakiti dengan mereka, pihak ketiga menjadi pemicu parahnya masalah kami. Yah jadi efeknya ketika semua ter blow up adalah saya seperti menganggap mereka tidak ada di lingkaran saya. Saya hanya akan mengerjakan dan menjalani hal2 yang bermanfaat bagi orang lain, tapi saya masih butuh waktu untuk bisa memaafkan apa yang telah pihak ketiga dan rekan2 saya perbuat pada saya.

Tahukah anda? Ini kedua kali saya mengalami hal ini. Perkataan yang saya ucapkan diinterpretasikan lain oleh pihak ketiga, dan saya merasa seperti diadu domba. Namun tidak ada yang bisa saya lakukan dengan hal itu selain pasrah dan menerima dengan lapang dada segala yang terjadi. Karena membela diri toh juga tidak ada gunanya. Semua sudah berubah. Saya selalu berusaha untuk bersandar pada tingkah Rasul yang tidak mendendam kepada mereka yang telah menyakiti kita.

Well.. seburuk2nya hubungan kami, dengan kami tidak saling menyapa lagi, at least membuat saya jauh lebih tenang. Saya tidak perlu lagi repot dengan beberapa kepentingan yang menguras energi dan pikiran saya. Saya dan rekan2 saya itu mungkin saja telah menjadi korban dari sebuah sistem yang absurd. Namun kausalitas dari masalah ini (saya percaya) akan membawa kami semua pada kebaikan. Waktu untuk itu tak perlu saya tunggu. Ia akan datang dengan sendirinya. Saya yakin. Dan mereka? Walau hubungan pertemanan kami sepertinya telah menemui akhir, namun bagaimanapun juga mereka masih teman2 saya. Kami pernah bercanda bersama dan berbagi kegembiraan kesedihan dan kekonyolan bersama.

Dan dengan perasaan yang mendalam, saya selalu mendoakan agar mereka selalu bahagia dan baik-baik saja.

Cobaan selama kehamilan

Pernah merasa “down” pada saat hamil?
Pernah merasa mendapat cobaan berat saat hamil?

Mungkin aja saya yang lebay. Tapi yang saya alami mungkin memang disebut sebagai cobaan selama saya hamil. Adaa aja cobaannya yang bikin saya sedih, kecewa, bingung, sakit hati, dll. Emosi ini serasa naik turun diterpa masalah yang mendera. (wuiiih bahasanya…)

Mulai dari dimusuhin orang (padahal saya tidak melakukan kesalahan apa-apa), mendapat rumah yang kurang nyaman yang membuat saya harus banyak bersabar, sampai dimarahin atasan untuk alasan yang nggak masuk akal.

Saya bukan seorang malaikat yang bisa bersikap seperti malaikat untuk orang lain. Adakalanya saya melakukan hal yang tidak berkenan bagi orang lain.
Rasanya saya ingin sekali memindahkan diri saya ke pekerjaan yang lebih baik yang bisa membuat saya tersenyum setiap hari, tanpa harus bersentuhan dengan gosip-gosip dan pikiran negatif dari lingkungan. Ingin sekali rasanya saya bekerja dengan penuh kehangatan, tanpa harus ada sikut2an atau pertikaian yang membuat saya selalu berada di posisi yang lemah.
Saya hanya ingin bekerja sebaik mungkin dengan sebagaimana mestinya. Namun nampaknya sulit sekali untuk menjadi orang yang lurus dan profesional. Saya toh tidak ahli dalam berpolitik, bersilat lidah, ngotot dalam bernegosiasi. Saya orang yang suka damai dan ga suka konflik. Tapi seakan sekarang saya terjebak dalam sikap saya tersebut. Ga jarang saya menangis, sedih rasanya memikirkan apa yang harus saya lakukan untuk survive. Saya juga tidak mungkin resign, pun saya tidak mungkin bersikap tidak profesional hanya untuk bertahan dalam pekerjaan ini. Di sisi lain, saya masih membutuhkan pekerjaan ini sebagai sumber masukan finansial saya dan keluarga.

Saat ini saya hanya bisa menangis.. Saya belum bisa berpikir jernih. Sambil terus berharap Allah memaafkan saya, segala hal yang saya pikirkan, dan berharap dapat mengambil hikmah dan mendapat kesabaran dari perlakuan orang2 yang mendholimi saya. Semoga ini bisa segera membaik. Dan semoga cobaan ini tidak membuat kandungan saya menjadi terluka.

Kehamilan Trimester I di bulan Ramadhan

Yeaaaaa..!

Since I recognized that I am pregnant, in the first of August 2010, we (my husband and I) are veryyyyy happy. We have been expected for a baby for two years after married. And everything is never be the same again. How could it be? Well.. I bet, every married woman must be feel these ways. In different cases, indeed we personally having some fascinating problems to face it.

Let’s move to bahasa.. hehee.. biar suami ga protes kalo baca. (he is the first who complaint a lot to me when i speak in english, nggak njawani katanya.. haha!) <– sewot.com

Trimester pertama kehamilan memang masa yang rawan. Saya merasakannya. Berikut ini adalah yang saya rasakan:

  • Minggu-minggu awal, saya merasakan perut bagian bawah sakiit banget. Kaya ditusuk-tusuk. Mungkin seperti PMS, tapi ini lebih berasa sakit. Apalagi kalo kecapean, gampang banget sakit. Kalo udah gitu saya cuma bisa duduk dan tiduran. Karena lemes banget.
  • Saya juga merasakan badan saya cepet banget capek. Terutama paha kaki. Buat naik turun tangga sekali aja, rasanya kaya naik turun tangga 10 kali.
  • Saya ga bisa lagi bawa chihuahua ke kantor. Karena tiap getaran yang dilaluinya membuat perut saya makin cenut cenut dan cepat capek. Jadi, saya sekarang brangkat kantor by train aja, jd commuter.
  • Wajah saya terlihat pucat (kata temen2 sih gitu), dan seiring dengan itu, rasa malas melanda. Malas ini itu, dll.
  • Flu dan pusing berat! alhamdulillahnya ga sampe batuk. Selain itu demam dan badan juga sakit semua.
  • Mulai nggak doyan makan dan mual-mual. Alhamdulillah ga sampe muntah. Makanan pertama yang sukses bikin saya mual berat adalah makanan kesukaan saya, nasi uduk dan telur. any kind of egg lah, mau didadar, ceplok, bulet utuh, semua bikin mual (hmmpph!!)
  • Pengennya makan yang asin dan asem2 seger. Kaya buah, yoghurt, rujak.
  • Sembeliiiit!! ini nih yang sering bikin perut saya begah.
  • Ga suka makan dengan metode mengulang makan makanan yang sudah dimakan sebelumnya. Misalnya, saya sekarang pengen makan tumis brokoli, untuk jam makan berikutnya jangan harap mau makan tumis itu lagi, walopun masih ada sisa dan masih enak. Udah eneg rasanya. <– ini nih yang bikin bingung suami, hehe.. dia akhirnya dapat giliran ngabisin makanan sisa istrinya mulu..

Itu adalah beberapa case yang saya alami saat hamil di trimester pertama, terutama di minggu2 pertama. Menyenangkan? Hmm.. fifty-fifty. Kehamilan ini membuat saya excited banget, tapi waktu kehamilan di bulan ramadhan membuat saya tidak kebagian puasa penuh.

Sudah 9 hari saya nggak puasa. Pernah coba puasa di hari pertama, hasilnya: tensi turun drastis, dan drop. Kepala kunang-kunang dan lambung sakit sekali kaya diiris-iris. Jadi saya putuskan dengan terpaksa tidak puasa. Suami mendukung untuk hal ini. Walau pada awalnya dia maksain saya buat puasa. Mungkin karena ngelihat istrinya udah kaya mayat hidup, ya dia akhirnya merelakan istrinya ga puasa.

Saya juga merasakan sulit sekali makan. Apapun makanan yang ada di depan mata selalu bikin ga selera. Saya lebih suka makan yang saat itu terlintas di benak saya, dan ga bisa ditawar lagi. Pernah malam2 suami mencarikan pisang raja karena saya pengen banget makan pisang raja. :-p

Untuk mengatasi hal tersebut saya rajin banget minum madu dan konsumsi buah. Vitamin, obat penguat kandungan dan juga susu emesis nggak lupa dilahap juga, biar si jabang bayi dapat nutrisi yang cukup, mengingat selera makan saya jelek sekali di trimester pertama ini.

Flu dan sakit kepala memang sebaiknya dibiarkan saja hingga sembuh. Biarkan sistem imun tubuh kita yang bekerja melawan flu dan sakit itu. Dengan rajin minum madu, makan buah2an dan yoghurt, alhamdulillah flu itu hilang dengan sendirinya. Selama flu, saya menghindari makan gorengan dan makanan yang tidak sehat kaya kornet, sarden, minuman kaleng (karena ada pengawetnya). Alhasil cuma 4 hari flu bertahan di dalam tubuh saya.

Sembelit adalah masalah umum yang dialami ibu hamil. Banyak artikel di internet yang menjelaskan kenapa ibu hamil mengalami sembelit atau konstipasi. Tidak peduli berapa banyak air yang diminum, berkilo2 buah dan berikat-ikat sayuran yang dimakan, tidak menolong perut bebas dari sembelit. Ya kuncinya sabar dan nikmati. Sekali kita buang air besar, pasti akan lega karena semua kotoran keluar dari perut. Setelahnya, perut akan merasa bersiiih banget.. plong! hehe

Lalu gimana sama hubungan seksual? Nah ni dia! Beberapa pasangan ada yang tetap melakukan hubungan seksual pada saat istri hamil di trimester pertama. Tapi ada juga yang tidak melakukannya di tiga bulan pertama karena ingin lebih berhati-hati terhadap janin (karena janin masih rawan). Saya dan suami memilih yang kedua. Kami sangat ekstra hati-hati dalam hal ini. Komunikasi dan diskusi yang intens mengenai hal ini sangat menolong problem sang suami (tahu kaan maksudnya… hehe), termasuk memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Karena waktu tiga bulan itu lama lhooo… :-p

Ohya, selama hamil ini, saya dan suami selalu membiasakan diri untuk sholat berjamaah, membaca Quran dan membaca amalan-amalan lain, seperti asmaul husna, ayat qursi, dll. Sesuai dengan firman Allah di surah An Nahl ayat 78:

16:78 Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (16:78)

Setelah searching sana sini, saya menemukan juga bacaan yang bagus buat amalan bacaan saat masa-masa kehamilan:

(diambil dari rumahqorma.com)

1) Bismillahhir rahmaanir rahiim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

2) Alhamdu lillahi rabbil’aalamiin
Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam

3) Allahumma shalli alaa sayyidinaa Muhammad
Ya Allah tambahkanlah kesejahteraan kepada penghulu kami Nabi Muhammad SAW

4) Thibbil quluubi wadawaaihaa
Sebagai pengobat dan penawar hatiku

5) Wa’aafiyatil abdaani wa syifaa ihaa
Penyehat dan penyegar badanku

6) Wanuuril abshaari wa dhiyaa ihaa
Sebagai sinar dan cahaya pendangan mata

7) Waquutil arwaahi waqidza ihaa
Sebagai penguat dan santapan rohani

8 ) Wa’alaa aalihi washahbihi wabarik wa sallim
Dan kepada keluarganya dan para sahbatnya berikanlah keberkahan dan keselamatan

9) Allahummahfazh waladaha maa daama fii bathnihaa
Ya Allah semoga Engkau lindungi bayi ini selama ada dalam kandungan ibunya

10) Washafihii ma’a ummihi antsysyaafii laa syifaa illaa syifaa uka syifaa an laa yuqoodiru saqoman
Dan semoga Engkau memberikan kepada bayi dan ibunya Allah yang memberi kesehatan. Tidak ada kesehatan selain kesehatan Allah, kesehatan yang tidak diakhiri dengan penyakit lain

11) Allahumma shawwirhu fii bathnihaa shuurotanhasanatan
Ya Allah semoga Engkau ciptakan bayi ini dalam kandungan ibunya dengan rupa yang bagus

12) Watsabbit qolbahu iimaanan bika wabiraa suulika
Dan semoga Engkau tanamkan hatinya bayi ini iman kepadaMu ya Allah dan kepada Rasul Mu

13) Allahumma akhrijhu min bathni ummihi waqta walaada tihaa sahlan wasaliman
Ya Allah semoga Engkau mengeluarkan bayi ini dari dalam kandungan ibunya pada waktu yang telah ditetapkan dalam keadaan yang sehat dan selamat

14) Allahummaj’alhu shahiihan kaamilan wa’aaqilan haa dziqaan wa’aaliman aamilan
Ya Allah semoga Engkau jadikan bayi ini sehat, sempurna, berakal cerdas dan mengerti dalam urusan agama

15) Allahumma’alhu thawwil umrahu washahhih jasadahu wahassin khuluqohu wafashshih lisaanaahu
Ya Allah semoga Engkau memberikan kepada bayi ini umur yang panjang, sehat jasmani dan rohani, bagus budi perangainya, fasih lisannya

16) Wa ahsin shautahu li qiira atil hadiitsi wal qur’aan
Serta bagus suaranya untuk membaca hadis dan Al Quran

17) Warfa ‘darojatuhu
Dan tinggikanlah derajatnya

18) Wawasi’rizqahu
Dan luaskan rizkinya

19) Wajalhu insaanan kaamilan saaliman fiddunya wal aakhirah
Dan jadikanlah bagi manusia yang sempurna selamat di dunia dan akhirat

20) Bibirakati sayyidina Muhammaddin shallallaahu’alaihi wassallam wal hamdu lillahi rabiil’aalamiina
Dengan berkahnya Nabi besar Muhammad SAW dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam

Aaamin, aamin aamin yaa robbal aalamin
Kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami, kabulkanlah doa kami ya Allah seru sekalian alam.

Pada waktu saya buat tulisan ini, mual dan eneg masih saya rasakan. Jadi saya menghindari bepergian dan bertamu dalam jangka waktu yang lama. Semoga setelah 4 bulan nanti, semua akan kembali normal dan janin dalam kandungan saya sehattt!! Amiiin.

Love Curriculum

Sebelum tahun 2006:

Beberapa kali pertanyaan ini mampir ke saya: Sudah punya cowok belum Nis? — Jawab: Belum!

(Masih pengen bebasss..!!)

Tahun 2006 awal:

Pertanyaan itu masih mampir, trus saya jawab “Udah!

Mereka tanya lagi, “Mana? ga pernah keliatan..”

Saya jawab, “Ada. Jarang keliatan kaya hantu..”

Waktu itu saya tengah menjalin hubungan dengan seorang pustakawan dari timur jawa. sejak pertemuan kami di jakarta, kami jarang bertemu. Menurut saya hubungan jarak jauh itu menyenangkan. Gimana nggak enak? Waktu saya ga terbuang percuma untuk pacaran.. Saya masih bisa jalan2 sama temen2 saya, tanpa mesti ribet janjian dan jalan berdua sama pasangan. Pada dasarnya saya lebih suka jalan2 sendiri. kalo pacaran ya lebih suka di rumah aja ngobrol di balkon :p

Tahun 2007 :

Jombloo!! Waktu saya lebih banyak saya habiskan dengan bekerja dan bercengkerama bersama sahabat dan teman2. hanging out, piknik, dll.

pertengahan 2007:

Main ke Jakarta. Saya diajak teman untuk menghadiri sebuah acara di Setiabudi, disitu saya berkenalan dengan seorang rekan pria. Pertemuan sangat singkat. Yang saya ingat, dia orang jawa dan bermata sipit.

Akhir 2007:

Hijrah ke Jakarta. Bekerja pada sebuah lembaga riset, dan saya memutuskan untuk tinggal alias ngekos di Kuningan. Awal desember 2007 saya lagi keluar kosan mo ke carrefour Ambassador, pas lg jalan di genteng ijo, saya disapa oleh seorang pria yg lewat dengan motornya. Saya ingat2, ah ya! dia pria yang saya temui di setiabudi pertengahan tahun ini. Kami ngobrol dan dia menawarkan diri untuk mengantar saya ke carrefour. And the story went to the next step. Tepat di hari terakhir 2008, dia menawarkan diri untuk menemani saya dan teman saya jalan2 ke seaworld. Ada gelagat aneh dari cara dia berbicara, berbahasa tubuh, dll. Kayanya dia suka deh ma saya! hahahaaaa… ge er tingkat tinggi.

Awal 2008:

Dia mulai sering main ke kosan saya dan mengajak saya keluar rumah untuk jalan2. Tepat di malam tahun baru, kami bermalam baruan di bundaran HI. Ngocol bareng dan hanging out bareng sampe pulang pagi. Kesan: Dia cukup berwibawa, baik, rame, ngemong. Suatu hari, tgl 5 Januari, setelah mengantar saya pulang dari jalan2 bersama, tepat jam 12 malam dia ungkapkan perasaannya. Karena sudah kadung nyaman dan sayang (walo sayangnya baru sak ndulit), ya akhirnya saya terima dia sebagai kekasih saya (teilaa.. kekasiih..fit fiuuuu..!!)

Sejak itulah saya merasa bukan pribadi yang sendiri lagi. Saya belajar untuk bisa sharing, mengerti dan saling toleransi.

Pertengahan 2008:

Dia melamar saya untuk menjadi istrinya. Singkatnya, kami menikah di Salatiga. Alhamdulillah kami resmi menjadi suami istri.

Pertengahan 2008- pertengahan 2010:

Masa-masa pacaran sesungguhnya. Tawa, canda dan air mata jadi satu. Ujian demi ujian datang seperti ingin memporakporandakan cinta kami. Alhamdulillah, cobaan yang datang justru membuat kami belajar makna saling mencintai dan menerima, menjalani kehidupan rumah tangga sebenarnya. Alhamdulillah pula.. cinta kami bertambah kuat. Dari hari ke hari.

Agustus 2010:

Saya hamiiil!! Horeee!! Ini sudah minggu k-8. Saat2 penuh perjuangan telah dimulai. Mabuk, mual dll. Karena kehamilan saya datang pada saat bulan Ramadhan, saya tidak sanggup berpuasa. InsyaAllah berkah ramadhan kali ini dapat membawa kebaikan bagi kami. Jika semua lancar, anak pertama kami akan lahir pada april 2010. Mohon doanya yaaa…

Kalau aku mati nanti…

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati sebagai syahid, yang rela mengorbankan nyawa demi Allah semata, yang rela memberikan jiwa ragaku ini hanya kepada Dia Pemilik Dunia.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati sebagai muslim. Aku ingin mati dalam keadaan baik, dan dalam keadaan beribadah kepadaNya.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin menghembuskan nafas terakhirku dengan berada di dalam dekapan orang-orang yang kusayangi dan menyayangiku, mungkin suamiku, anak-anakku, orang tuaku, sahabat-sahabatku dan saudara-saudaraku.

Kalau aku mati nanti,

Aku ingin mati setelah menunaikan kewajibanku, menjadi istri dan ibu yang baik, yang selalu dikasihi dan disayangi oleh keluargaku, yang telah melahirkan mujahid mujahid muda yang senantiasa berjuang di jalan Allah.

Aku sangat ingin bertemu denganNya, dalam keadaan iman islam yang tidak akan bisa tergantikan oleh nikmat apapun.

Kalau aku mati nanti, inilah yang ingin aku sampaikan:

1. Aku sangat mencintai dan menyayangi keluargaku. Ibuku: Titik Ruchayati, Ayahku: Suharyanto Anwar, Adikku: Putri Dwi Haryati, Eyangku: Djayus Wirjopranoto, dan Tanteku Siti Irianti. Dari mereka lah kisah hidupku berawal. Aku tidak akan menyebutkan apa saja yang aku dapat dari mereka. Aku hanya bisa mengatakan bahwa hanya pada merekalah aku berterima kasih atas segala pelajaran hidup yang aku alami. Kepada merekalah aku bersandar.

2. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku sangat mencintai suamiku, apapun dan bagaimanapun kondisinya. Di dunia ini dia adalah salah satu orang dalam posisi tertinggi dalam hatiku, dimana aku takut kehilangan sosoknya. Dialah belahan jiwaku, dan karenanyalah aku berani menghadapi cobaan hidup. Satu hal yang aku selalu ingat darinya adalah, dia orang yang sangat penyayang. Tidak sekalipun dia menyakitiku, walaupun aku telah melakukan kesalahan yang besar, dia selalu penuh kasih sayang menerima aku apa adanya. Aku sangat suka ciumannya dan pelukannya. Hangat. Dan saat dia mengatakan bahwa aku adalah cinta pertamanya, saat itulah aku yakin bahwa dialah cinta terakhirku dan dialah yang sudah memenangkan hatiku.

3. Aku sangat mensyukuri kehidupanku. Lahir dengan keluarga yang harmonis, damai dan sejahtera. Ayahku, Ibuku dan Adikku, kepada merekalah aku berterima kasih telah membekaliku jurus-jurus untuk menghadapi kejamnya dunia.

4. Aku sangat bersyukur sekali hidup dengan iman islam, menjadi muslimah yang selalu berjuang mengatasi ego diri sendiri yang kerap tidak mau bersyukur padaNya. Dan aku tidak takut apapun, bahwa semua yang berwujud pasti akan menghilang dengan sendirinya.

5. Aku sangat kecewa saat tahu bahwa hidupku tidaklah semulus yang aku bayangkan. Aku ingin selalu berada dalam kondisi damai dan tanpa sentuhan hitam. Namun aku sadar bahwa disitulah cobaan yg Allah berikan padaku supaya aku tegar dan naik derajad. Kemudian aku sangat bahagia dan bersyukur bahwa Allah mengujiku dengan cobaan-cobaan hidup.

6. Aku bersyukur bahwa saat aku berada dalam kondisi yang tidak baik dan terpuruk, aku memiliki dua senjata sebagai penolongku, yaitu sabar dan sholat. Alhamdulillah hingga kini aku merasakan manfaatnya. Aku akhirnya sadar, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Subhanallah.

7. Aku sangat mencintai keluargaku dan keluarga suamiku. Kepada mereka lah aku membagi seluruh kasih sayangku, dan aku merasa mendapatkan kasih sayang berlimpah dari mereka.

Begitulah.

Kalau aku mati nanti, aku ingin saat aku menghuni “rumah masa depanku” yaitu kuburku, aku ingin kuburku lapang, cerah dan terang, penuh cahaya.

Kalau aku mati nanti, aku ingin bisa menjawab dengan sempurna pertanyaan yang diajukan oleh malaikat Munkar dan Nakir, akan siapa Tuhanku, apa agamaku dan siapa Nabiku. Karena tiga pertanyaan itulah awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur yang akan aku terima nanti.

Kalau aku mati nanti, saat aku memasuki alam kubur, aku ingin dijauhkan dari siksa kubur yang amat pedih, diberi nikmat dan mendapat perlindungan dari Allah.

Dan kalau aku mati nanti, aku ingin mati dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, agar aku bisa mati dengan tenang, meninggalkan seluruh duniaku.

====

Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri,

“Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?”

Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?”

Lalu beliau menangis.

=====

Lalu aku menghela napas dalam-dalam,

Aku harus siap untuk mati! InsyaAllah..

Jakarta, awal Juni 2010

In the name of marriage

Banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan apabila seseorang telah melampaui tingkatan yang bernama Pernikahan. Begitu kompleksnya dimensi yang menyertai setiap langkah pasangan yang menikah, secara tidak sadar akan membawa pasangan itu memilih kepada dua arah: tetap bersama atau terpaksa harus berpisah. Orang, bisa lelaki atau perempuan, cenderung melakukan apa yang disenanginya, diimpikannya dan dihasratinya. Begitu juga saat orang itu memilih untuk menikah.

Apa sih yang ada dalam sebuah pernikahan, sehingga membuat orang tidak berhenti membicarakannya? Apa benar cuma memuaskan nafsu biologis saja? Kalau iya, kenapa harus ada masa menopause untuk perempuan? Kalau benar ga adil dong alasan ingin menikah adalah memuaskan hasrat biologis..

Apa sih yang membuat orang ingin menikah? Banyak! Atau apa sih yang membuat orang menggebu-gebu mencari pasangan hidupnya? Alasannya macam-macam pula. Lalu apa sih yang dicari setelah menikah? Mungkin ga banyak yang bisa menjawab. Kenapa? Apa karena pernikahan itu untuk status atau harta atau segala macam alasan keduniawian?

Ada yang bilang orang ingin menikah karena mencintai pasangannya dan ingin hidup bersamanya. Ada yang bilang orang ingin menikah karena udah waktunya nikah, alias udah cukup usia bahkan udah lebih cukup dari usia orang idealnya menikah. Ada juga yang bilang orang ingin menikah karena pasangannya udah hamil duluan. Ada yang bilang lagi orang ingin menikah karena pasangannya kaya dan diyakini bisa menjamin hidupnya dan anak cucunya kelak tanpa harus kerja keras. Ada lagi nih yang bilang kalo orang ingin menikah karena capek kelamaan pacaran atau kelamaan tunangan, jadi daripada udahan dan menanggung malu, mending nikah aja untuk membahagiakan orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak. Hohoo.. Alasan-alasan itu masih bisa bertambah karena manusia itu majemuk, selalu penuh pikiran-pikiran, tujuan dan visi misi.

Oke, anggap saja sekarang ada sepasang dewasa (usia 20 tahunan) yang lagi pacaran. Mesraaaaa banget! Di masa pacaran mereka selalu bahagia, penuh canda tawa, hati berbunga, kemana selalu berdua, peluk-pelukan, cium-ciuman, sayang-sayangan, obral kata cinta, pujian dll. Saking bahagianya mereka sampai lupa mengemukakan jati diri mereka yang apa adanya, lalu “lupa” untuk mengemukakan atau menunjukkan kelemahan mereka, “lupa” pula untuk menjadi diri mereka sendiri termasuk menunjukkan daily habit mereka. And the relationship goes..

Until one day, mereka memutuskan untuk menikah. Menjelang pernikahan keduanya agak sedikit tegang, sang lelaki grogi melepaskan status lajangnya, dan si perempuan grogi mempersiapkan pernak pernik resepsi pernikahan. Mulai deh muncul riak-riak kecil dalam setiap komunikasi mereka. Karena mereka masih memiliki kemesraan, masa itu bisa mereka lalui dengan baik. Sedikit sentuhan penuh kasih sayang dan kata maaf meluluhkan ketegangan masing-masing pasangan. Mereka tidak ingin ketegangan itu merusak hubungan mereka yang telah mereka bina sampai sejauh ini. Dan mereka memang masih cinta. And the reception goes perfect..

Satu tahun pernikahan

Perempuan itu memandang keluar jendela. Matanya terus mengeluarkan air mata. Jam menunjukkan pukul 12 malam. Ia melihat suaminya sudah terbaring pulas di ranjang. Ini bukan pertama kali perempuan itu menangis. Dan sering air mata itu berhenti menetes namun meninggalkan bengkak di matanya. Ia terlambat pulang, harinya sangat melelahkan. Banyak peristiwa yang terjadi hari itu. Ia tak sabar ingin menceritakannya dengan suaminya saat ia pulang nanti. Namun sambutan dari suaminya sungguh di luar dugaan. Hanya intimidasi yang keluar dari bibir suaminya itu, seolah-olah ia melakukan banyak kesalahan hari itu. Padahal ia hanya ingin didengarkan, didukung, dan tidak disalahkan. Masih dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan, kemudian ia pergi tidur di samping suaminya tanpa ada pelukan hangat dari lelaki, yang pernah berpuluh-puluh kali mengucapkan kata cinta padanya, itu. Matanya perlahan terpejam diiringi hatinya yang bergemuruh menahan luka. Air matanya tetap jatuh dalam gelap. Dengan lirih ia bertanya, “Apa yang salah dengan semua ini?”

Apa yang membuat air mata perempuan itu sering tumpah setelah menikah?

Lelaki itu terdiam dalam tidurnya. Matanya terpejam, sepertinya ia pulas tertidur. Namun ada gurat kecil di atas dahinya. Ia tampak kelelahan. Tampak sangat letih. Seharian ini ia bekerja banting tulang mencari nafkah untuk keluarga kecilnya: ia dan istrinya. Namun saat pulang kerja ia tak sanggup untuk berbuat apa-apa saat ditemukannya di atas meja makan tak ada lauk yang bisa memanjakan lidahnya. Istrinya terlambat pulang karena ada meeting dengan klien. Saat istrinya sudah di sisinya, ia ingin dipijat. Belum sempat meminta, istrinya terlebih dahulu mengatakan bahwa ia sangat kelelahan. Dan istrinya bercerita mengenai peristiwa yang terjadi di sepanjang hari itu. Namun ia terlalu capek mendengarkan, akhirnya ia menanggapi dan menyanggah seperlunya. Hal itu membuat hati istri terluka dan akhirnya mereka bertengkar. “Bilang ini salah, bilang itu salah.. Aku harus bagaimana? Aku benar-benar capai! Aku tak peduli dengan apa yang kau ucapkan, bikin aku pusing saja!” desahnya sebelum tidur.

Apa yang membuat wajah lelaki mengeruh setelah menikah?

Sampai sini…

Siapa yang salah? Dan bagaimana harus menyikapinya?

Apakah baginya sudah tidak ada kebahagiaan? Apakah kebahagiaan harus hadir setelah kita berkorban menjadi orang lain? Tidakkah itu kurang adil baginya yang memang apa adanya? Perempuan itu menikah karena ingin bahagia, mencintai dan dicintai. Tampaknya ia tersadar oleh sesuatu. Bahwa pernikahan itu tidak cukup dengan cinta. Tidak cukup hanya dengan harta. Tidak cukup dengan ingin diperhatikan dan dicintai. Tidak cukup dengan pelukan dan ciuman. Lalu apa yang seharusnya menghidupkan pernikahan? Apa yang seharusnya membuat ia bahagia dalam pernikahannya? Mengapa sulit sekali baginya bergerak maju untuk bisa menerima apa adanya suaminya, apa adanya dirinya, dan apa adanya keadaan.

Kelelahan, ketidakpekaan, cemburu, ketidakromantisan, ketidakpengertianan, dll. Bagi pasangan muda, hal tersebut sangat rawan memicu pertengkaran. Tidak banyak pasangan yang menyadari arti pentingnya sebuah perbedaan. Misalnya pada saat kondisi pasangan yang termaktub di atas. Dalam kondisi tersebut, siapa yang harus mengalah? Siapa yang harus terlebih dahulu mengatakan “Maaf” dan memeluk pasangannya, sambil mengatakan semua akan baik-baik saja atau aku mencintaimu, atau apalah yang bisa menenangkan pasangannya?

Hampir tidak ada! Tidak ada yang bisa memulai. Masing-masing sibuk dengan batin dan pengharapannya sendiri2, harapan ingin dihampiri dan dipeluk terlebih dahulu. Hingga waktu yang menggiring mereka ke atas ranjang untuk tidur tanpa menyelesaikan masalah.

Bagi pasangan ini, pernikahan menjadi sangat sulit dalam kondisi itu. Dan sampai disini, pasangan itu belum juga memulai untuk berdamai dan mengucapkan cinta seperti yang mereka agungkan dulu. Mereka makin sibuk tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Tanpa ada pelukan dan ciuman mesra. Mereka terlalu capai bertengkar seperti itu.

Apa yang salah dengan semua ini? Sepertinya tidak ada yang salah. Memang dua duanya tidak bersalah. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Ending with nothing adalah kesia-siaan. Semoga mereka menemukan jalan keluar dari kepenatan dan keruwetan ini.